CROWD (MASSA)

Posted on June 14, 2011

0


1. Pengertian Crowds

Milgram dan Toch (1985: pg. 510) memberikan pengertian crowd sebagai “…is a large number of persons gathered so closely together as to press upon each other.” Dimana individu dalam jumlah banyak yang berkumpul bersama begitu dekat sehingga menjadi penekan atas satu sama lain. di dalam defenisi ini telah terlihat adanya interaksi yang ditunjukkan dari penekanan atau pemberian aksi dan reaksi dalam kumpulan manusia dalam situasi tertentu. MenurutMcDougall (Sarlito, 2005: hal 85) mengatakan bahwa setiap manusia memiliki naluri primitif dan apabila tersentuh maka kumpulan orang yang manapun akan bereaksi primitif (impulsif, agresif, destruktif) sebagai crowd. Misalnya, pada peristiwa kebakaran atau bencana alam ketika massa tiba-tiba panik atau pada peristiwa kerusuhan massal dimana setiap orang dijalanan ikut menjadi agresif karena kemarahan yang sudah lama terpendam. Drs. Slamet Santosa, M. Pd. (2009: hal 33), crowd tercipta karena adanya situasi kebersamaan yang membuat individu-individu berkumpul secara bersama-sama yang akhirnya menimbulkan kelompok kebersamaan. Kelompok kebersamaan ini berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara spontan. Kelompok inilah yang disebut dengan massa atau crowd. Sedangkan Shelley Taylor, dkk (2009: 376) mengartikan bahwa crowd merupakan suatu keadaan psikologis dimana seseorang merasa tidak nyaman atau stress karena merasa berada di tempat yang sangat sempit.

Jadi dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa crowd merupakan sekumpulan individu yang berkumpul bersama begitu dekat yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau stress dimana apabila naluri primitif mereka tersentuh maka mereka dapat bereaksi spontan yang bersifat primitif (impulsif, agresif, destruktif).

 

2. Karakteristik Crowd

Menurut Kinch (Santosa, 2009: 33), ciri-ciri crowd adalah a. Bertanggung jawab dalam waktu yang relatif pendek b. Para pesertanya berhubungan secara fisik (misalnya, berdesak-desakan), c. Kurang adanya aturan yang terorganisir, serta d. Interaksinya bersifat spontan 3. Pembagian Crowd Sedangkan Brown memerincikan crowd dalam beberapa bagian untuk mempertegas definisi dari crowd. Brown (dalam Milgram & Toch, 1985: pg. 501) mengatakan bahwa crowds terbagi ke dalam dua tipe yaitu aktif dan pasif. Dimana crowd tipe aktif dapat disebut sebagai mob, yaitu crowd yang mengacu pada tindakan yang cenderung melanggar hukum dan bisa menyakiti orang lain. Sedangkan crowd tipe pasif disebut sebagai audiences, yaitu crowd yang timbul atas adanya suatu stimulus berupa kejadian atau peristiwa tertentu, yang mana biasanya diwarnai dengan euphoria oleh partisipannya dan tidak berpotensi menimbulkan kerusuhan. Contohnya, crowd pada konser musik rock yang berjalan tertib. Berikut gambaran taksonomi crowd menurut Brown (Santosa, 2009: hal. 34):

Keterangan:

1. Crowds, sekelompok individu yang untuk sementara menunjukkan kesatuan perasaan dan aksi, disebabkan kenyataan bahwa perhatian mereka berpusat pada objek, bahan atau ideal yang sama

2. Mobs adalah suatu kerumunan aktif yang menyebabkan kerusakan-kerusakan

3. Aggressive adalah suatu bentuk kerumunan yang mengarah pada penghancuran dan pengrusakan

4. Escape adalah suatu bentuk tingkah laku kolektif yang lahir dari kemudahan-kemudahan menghadapi ancaman, sehingga lebih berbentuk suatu aktivitas atau gerakan massal yang berbondong-bondong melarikan diri dari sumber ancaman atau bahaya

5. Acquisitive, kualitas hasrat yang besar untuk memperoleh sesuatu dan memilikinya

6. Expressive, suatu bentuk tingkah laku massa yang lebih berbentuk lontaran atau cetusan perasaan sesaat saja

7. Audience atau secondary crowd, terbentuknya suatu kelompok karena adanya penggerak yang sama

8. Casual, suatu kerumunan massa, yang terbentuknya tidak direncanakan lebih dahulu

9. Intetnional, suatu bentuk kerumunan massa yang terbentuknya direncanakan terlebih dahulu

10. Recreational, suatu bentuk kerumunanyang terbentuknya dalam kesempatan rekreasi atau mencari kesenangan

11. Information seeking, suatu kerumunan yang berbentuk usaha dari individu-individu di dalam kerumunan untuk mendapatkan kepastian suatu informasi yang masih belum jelas

12. Lynching, suatu bentuk kemarahan massa yang diarahkan pada individu sebagai objek, biasanya berbentuk pengeroyokan sampai terjadi pembunuhan

13. Terrorization, suatu bentuk kriminalitas massal yang berbentuk teror

14. Riot, bentuk gerakan massa yang menghancurkan dan merusak lingkungan

15. Panic organization, perilaku yang berkembang manakala kerumunan pada suatu kelompok menjadi histeris atau kacau

16. Panic inorganization, perilaku yang berkembang manakala kerumunan pada suatu kelompok tidak menjadi histeris atau kacau

Dalam Milgram & Toch (1985: pg. 515), Gordon Allport mengatakan bahwa crowd berubah menjadi mob ketika emosi yang terjadi pada saat crowd diselimuti rasa marah dan berubah menjadi panic ketika emosi tersebut diselimuti rasa takut.

Sedangkan menurut Mennicke (1948) mengkategorikan massa menjadi dua, yaitu:

1. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan. Alasan timbul : – ada kejadian menarik – individu mendapat ancaman – kebutuhan tidak terpenuhi

2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri: – adanya kesatuan mind dan sikap – adanya ikatan batin dan persamaan norma – ada struktur yang jelas – bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya bekas.

4. Tahapan Crowd

Smelser (1963) membangun sebuah teori dalam upaya memahami crowd sebagai fenomena sosial perilaku kolektif yaitu melalui tahapan sistematis. Tahapan tersebut dapat menjelaskan mengenai proses terjadinya crowd yang disertai perilaku agresif (mob) dalam masyarakat. Setiap tahapan menjadi pemicu lahirnya tahapan sesudahnya, dimana tahap kedua tidak akan muncul tanpa adanya tahapan pertama, begitu seterusnya. Tahapan ini terdiri dari enam tahapan yang sistematis (Sarlito, 2005: hal 211), yaitu:

1. Structural Conduciveness Kondisi-kondisi yang sangat umum dari stuktur sosial yang menjadi bagian penting untuk episode kolektif. Kondisi atau kedaan ini yang memungkinkan terjadinya kerusuhan yang disebabkan oleh stuktur sosial tertentu, seperti tidak adanya sistem tanggung jawab yang jelas dalam masyarakat, tidak adanya saluran untuk mengungkapkan kejengkelan-kejengkelan dan adanya sarana untuk saling berkomunikasi antarmereka yang jengkel itu. Kondisi ini telah ada sebelum momen terjadinya crowd.

2. Structural Strain Tahap ini merupakan tahap kejengkelan atau tekanan sosial, yaitu kondisi karena sejumlah besar anggota masyarakat (kelompok besar atau massa) merasa bahwa banyak nilai dan norma yang sudah dilanggar. Kejengkelan atau tekanan sosial ini tidak cukup untuk mencetuskan kerusuhan. Akan tetapi, determinan ini menambah “nilai” yang sudah ada pada determinan pertama sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kerusuhan.

3. The Growth and Spread of Belief Pada tahapan ini, prasangka kebencian mulai berkembang luas terhadap suatu sasaran tertentu, seperti pemerintah, kelompok ras, atau kelompok agama tertentu. Dimana pada partisipan diyakinkan bahwa kondisi yang ada disekitarnya tidak memuaskan dan perlu adanya perubahan. Peran pemimpin sangat berarti disini dalam menyakinkan partisipan.

4. Precipitating Factors Tahapan ini menunjukkan adanya suatu peristiwa tertentu yang dapat mempercepat dan mengobarkan munculnya mob.

5. Mobilization of the Participant for Action Dalam tahap ini terjadi mobilisasi massa untuk beraksi yaitu adanya tindakan nyata dar massa dan mengorganisasikan diri mereka untuk bertindak. Tahap ini merupakan determinan akhir dari kumulasi determinan yang memungkinkan pecahnya suatu kerusuhan. Sasaran aksi itu sendiri menurut Smelser ada dua tahap. Tahap pertama, ditujukan pada objek yang langsung memicu kerusuhan dan tahap kedua sasaran ditujukan kepada objek lain yang tidak ada kaitan langsung dengan faktor pemicu. Dalam hal ini, peran yang dimiiki oleh pemimpin untuk menggerakkan dan mengorganisasi massa juga sangat penting. Tanpa adanya pengaruh dari pemimpin maka kemunculan mob akan mudah digagalkan.

6. The Operation of Social Control Kontrol sosial merupakan kemampuan aparat keamanan dan petugas untuk mengendalikan situasi dan menghambat kerusuhan. Determinan ini merupakan determinan lawan dari determinan-determinan sebelumnya. Semakin kuat determinan kontrol sosial ini, semakin kecil kemungkinan meletusnya kerusuhan.

Sedangkan menurut MacPhail tahun 1994 (Sarlito, 2005: 219) proses kerusuhan menurut MacPhail terjadi dalam tiga tahap, yaitu:

1. Proses berkumpulnya massa

2. Aktivitas selama berlangsungnya huru-hara di kawasan huru hara

3. Proses bubarnya massa Kepadatan penduduk dan adanya jaringan komunikasi antaranggota masyarakat memang menambah besar kemungkinannya pengumpulan massa.

5. Teori-teori Crowd

Berikut beberapa teori-teori yang menjelaskan perilaku massa:

1. Teori Individual Menurut Lachman tahun 1993 (Sarlito, 2005: hal 218), orang-orang yang menjadi pelaku kerusuhan adalah orang-orang yang memang memperoleh anonimitas, rasa aman, kekuasaan dan keuntungan dari kerusuhan itu dan merasa tidak bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam kerusuhan itu. Dengan demikian, mereka yang terlibat dalam kerusuhan adalah individu-individu yang mempersepsikan suatu keuntungan bagi dirinya sendiri dari terjadinya kerusuhan itu. MacPhail (1994) selanjutnya menyatakan bahwa tidak mungkin orang mengetahui apa yang terjadi disekitarnya tanpa melalui persepsi. Persepsi inilah yang menentukan terjadi atau tidaknya perlibatan diri dalam kerusuhan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah bahwa begitu berkumpul di lokasi huru-hara, individu-individu itu saling menunjang dan mendukung dengan perilakunya masing-masing, baik sebagai individu-individu maupun dalam kelompok-kelompok kecil. Saling menunjang itu dimungkinkan karena individu sering kali hanya mengikuti orang lain atau melakukan yang disuruh oleh orang lain. Disinilah individu sebenarnya melakukan kontrol atas persepsinya sendiri. Ketika ia melihat orang lain beramai-ramai merampok, misalnya, ia dapat memilih apakah ia akan ikut-ikutan merampok, hanya menjadi penonton atau menghindari tempat kejadian atau malah membantu mencegah perampokan. Itulah sebabnya mengapa lokasi kejadian selalu terdapat orang-orang yang berperilaku melawan gelombang kerusuhan disamping pasif menonton atau menghindar.

2. Social Contagion Theory (Teori Penularan sosial) menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. Mereka melakukan tindakan meniru/imitasi.

3. Emergence Norm Theory: menyatakan bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai / norma aparat yang bertugas, maka konflik horizontal akan terjadi.

4. Convergency Theory: menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian dimana ketika mereka berbagi (convergence) pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan mengumpul bila mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi.

5. Deindivuation Theory, menyatakan bahwa ketika orang dalam kerumunan, maka mereka akan ”menghilangkan” jati dirinya, dan kemudian menyatu ke dalam jiwa massa.

About these ads
Posted in: Psikologi Massa