Cara Menentukan Jumlah Sampel Penelitian

Posted on July 1, 2012

6


“Cara menentukan jumlah sampel penelitian?”
“engg..yang ku tahu makin banyak jumlah sampelnya makin baikk.. Tapi aku gak yakin, ‘banyak’nya itu jumlahnya seberapa banyaakk???”

Hmn..percakapan di atas ga asing banget tuk kita-kita yang masih pemula dalam meneliti, tapi guys, kamu ga perlu bingung, yuukk kita bahas hal itu sama2 disini!

Pertama, sebelum kita menentukan jumlah sampel penelitian kita, kita harus tahu terlebih dahulu penelitian kita itu penelitian nonparametrik atau parametrik kah??
Klo penelitian kamu nonparametrik maka sampel kamu boleh di bawah 30 subjek :D
Tapi klo penelitian kamu itu parametrik, maka sampel kamu harus diatas 30 subjek.

So, yang akan kita bahas disini adalah mengenai penelitian parametrik :D #pssstt…ygnonparametrikjangankecewayahh

Kedua, hal yang kemudian perlu diperhatikan adalah tipe apa penelitian kamu karena ada tokoh peneliti yang menganggap bahwa beda tipe penelitian maka akan mempengaruhi besar kecilnya jumlah sampel minimum yang dapat diterima. Contohnya Gay (1976) dalam Sevilla (1993) yang mengatakan bahwa ukuran minimum yang dapat diterima berdasarkan tipe penelitian yaitu:
1. Penelitian deskriptif = 10 persen dari populasi, tapi untuk populasi yang sangat kecil diperlukan minimum 20 persen,
2. Penelitian korelasi = 30 subjek.
3. Penelitian ex post facto atau penelitian kausal komparatif = 15 subjek per kelompok.
4. Penelitian eksperimen = 15 subjek per kelompok. Namun ada juga beberapa ahli percaya bahwa 30 subjek per kelompok dapat dipertimbangkan sebagai ukuran minimum.

Nahh.. pernyataan2 di atas tadi mau ga mau pasti negbuat kita berpikir, “Hmn..berarti kayaknya makin banyak subjek makin bagusss”. Yup, itu benar banget. Tapi kita tentunya juga harus berpikir, jika makin banyak subjek makin bagus jadi kenapa ada ukuran subjek minimum?
Klo kita mencoba melogika-kannya, jika kita bisa mendapatkan hasil pengujian yang sama antara sampel yang sedikit di atas minimum dan sampel yang besarnya hampir mendekati jumlah populasi, so tentu kita tidak perlu membuang waktu untuk mengolah data2 dari jumlah sampel yang besar yang seyogyanya hasilnya akan cenderung sama dengan jumlah data minimum. #Psstt..iniuntukpenelitipemula,penelitiprofesionalgabolepakedataminimumyahh,agar penelitiannyalebihterpercaya ;D

Selanjutnya, ada juga peneliti lain yang menentukan jumlah ukuran sampel tanpa berdasarkan tipe penelitian, yaitu:
Rumus Slovin (1960) dalam Sevilla (1993):
n = N/1+N.e2
Keterangan:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan (persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel populasi). Dalam hal ini kamu bisa menggunakan 0,001/0,02/0,03/0,04/0,05/0,1. Angka 2 di sebelah rumus ‘e’ merupakan simbol kuadrat. Maksudnya sebelum dikalikan dengan N, ‘e’ harus dikuadratkan dahulu.

Referensi:

Consuelo G. Sevilla, dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI-Press.