Prosedur Identifikasi Saksi Mata

Posted on March 11, 2011

0


Salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan polisi menyelesaikan suatu kasus adalah adanya kehadiran saksi mata. Dimana tugas saksi mata tidak hanya saat pelaku kejahatan telah tertangkap, tetapi juga bersaksi dalam persidangan. Pemberian kesaksian ini berkaitan dengan pe-recallan memory saat peristiwa berlangsung. Error dapat terjadi dalam proses pengumpulan informasi dari saksi mata yang mana mungkin dalam kesalahan penarikan kesimpulan sehingga mengarah pada pelaku kejahatan yang salah. Contohnya, suatu waktu terjadi perampokan di toko mas X, dalam kejadian tersebut terdapat korban jiwa dan sandera. Orang yang disandera berhasil menyelamatkan diri bersama para saksi mata yang lain, tetapi para pelaku perampokan dan pembunuhan tersebut berhasil kabur. Polisi berusaha untuk menangkap para pelaku dengan mencoba mengidentifikasi para pelaku dari kesaksian para korban dan sandera. Namun, dalam proses identifikasi tersebut terjadi hal-hal yang tak diinginkan dimana sandera mengalami trauma sehingga sulit untuk diajak bekerja sama dalam mengingat sosok si pelaku. Pernyataan yang diberikan olehnya terlihat ambigu dan tidak jelas. Hal ini lah yang perlu kita perhatikan karena bila kita tidak peka terhadap pernyataan saksi maka kita bisa menangkap pelaku yang salah.

Dalam hal ini lah seorang psikolog forensik berperan yaitu dalam usaha untuk mengurangi tingkat error yang terjadi selama proses pemberian kesaksian oleh saksi mata. Hal ini dikarenakan adanya beberapa prosedur dalam kepolisian yang kurang tepat, yaitu:
– Kontruksi pertanyaan yang diajukan kurang baik, dimana pertanyaan yang diberikan tidak sistematis serta adanya pertanyaan jebakan
– Memperbolehkan seorang saksi mendengarkan kesaksian yang lainnya, hal ini dapat menyebabkan adanya indikasi saksi lainnya untuk ikut berbohong mengikuti yang lainnya. Contohnya, A dan B adalah orang yang hadir dalam peristiwa perampokan di toko mas X. Mereka berdua berada di kantor polisi dalam waktu yang sama untuk dimintai keterangannya oleh polisi. Ketika A di beri pertanyaan oleh polisi apakah ia melihat ciri-ciri pelaku yang spesifik, tetapi A menjawab ia tidak melihat jelas si pelaku. Padahal B orang yang diwaktu kejadian berada di dekat A melihat pelaku dengan jelas. Ketika B diberi pertanyaan yang sama, B menjawab seperti halnya A. A dan B berbohong karena mereka memiliki tujuan tertentu yaitu mereka tidak ingin terlibat dalam kasus tersebut yang mana akhirnya mungkin bisa mengancam keselamatan mereka. Hal-hal kebohongan inilah yang harus dihindari.
– Membuat catatan yang salah serta tidak merekam kesaksian
– Tidak mampu menggunakan teknik memory interview sesuai dengan teorinya
– Penyidik kurang terlatih

Sedangkan faktor lainnya yang dapat berkontribusi dalam tingkat error selama proses pengidentifikasian pelaku yaitu kondisi saksi mata (fisik dan mental) dan motivasi penegak hukum.

Berikut cara meningkatkan akurasi yang diberikan saksi mata, yaitu:
– Memberi jarak waktu pada tiap pertanyaan
– Re-create situasi terjadinya peristiwa, yaitu dengan mereka ulang kejadian
– Ajukan pertanyaan khusus
– Sifat interview: witness center
– Be sensitif

Sedangkan teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi saksi mata, yaitu:
1. Line up, yaitu dimana saksi mata diminta memilih orang dihadirkan oleh polisi yang mana dicurigai sebagai tersangka
2. Foto array, yaitu saksi dberikan beberapa poto-poto yang diduga adalah tersangka

Referensi:
Wrightsman, Lawrence S. 2001. Forensic Psychology. United State America: Wadsworth.