Cooperation, Competition And Social Dilemmas

Posted on May 17, 2011

0


            Realistic conflict theory merupakan teori yang fokus perhatiannya pada hubungan tujuan orang-orang, seperti pada sifat dasar kompetisi atau kooperatif dari perilaku mereka dan sifat dasar perselisihan atau keharmonisan dari hubungan-hubungan mereka. Kita dapat mempelajari hubungan ini dalam setting abstrak yaitu desain ‘game’ yang memiliki hubungan-hubungan  perbedaan tujuan pada dua atau lebih orang dalam bermain. Von Neumann & Morgenstern (1994) memperkenalkan sebuah model untuk menganalisis situasi dimana orang-orang didalamnya berselisih seluruhnya dimana sebagian akibat masalah tidak penting (e.g. uang, power). Hal tersebut dapat disebut decision theory, game theory atau utility theory. Teori tersebut memprakarsai sejumlah besar penelitian-penelitian di tahun 1960 & 1970. Sifat dasar yang amat sangat abstrak pada riset menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai hubungannya pada konflik dunia nyata dan menyebabkan penolakan di tahun 1980 (Aptelbaum & Lubek, 1976; Nemeth, 1970). Banyak dari riset ini dihubungkan dengan konflik interpersonal. Bagaimanapun, banyak dari hal tersebut juga memiliki implikasi penting pada konflik intergroup, contohnya the prisoners dilemma, trucking game dan the commons dilemma (Liebrand, dll., 1992).

The Prisoners Dilemma

            Prisoners dilemma merupakan riset game, yang diperkenalkan oleh Luke & Raiffa (1967, Rapoport, 1976). Riset game ini didasarkan pada sebuah anekdok. Dua orang yang dicurigai berbuat salah diinterogasi secara terpisah oleh detektif. Dimana detektif ini hanya memiliki bukti tunggal yang hanya dapat menghukum mereka karena pelanggaran.  Orang yang dicurigai tersebut secara terpisah diberi kesempatan untuk mengakui kesalahan mereka dimana jika seorang dari mereka mengakui kesalahannya, tetapi yang tersangka lainnya tidak mengaku maka tersangka yang mengaku akan diberikan kebasan dan yang tidak mengaku akan diberi hukuman yang berat. Sedangkan jika keduanya mengakui, maka mereka akan menerima hukuman yang sama beratnya. Tetapi jika mereka berdua tidak mau mengaku, maka mereka akan menerima hukuman yang ringan. Ilustrasi dilema dari prisoners dapat dilihat pada payoff matrix (Hogg). Meskipun sama-sama tidak mengakui adalah hasil yang terbaik, namun kecurigaan dan kekurangpercayaan diantara tersangka mendorong keduanya untuk mengaku. Penemuan ini telah dijawab sejumlah besar ratusan eksperimen prisoners dilemma, yang menggunakan macam-macam kondisi eksperimental dan payoff matrices (Dawer, 1991). The prisoners dilemma digambarkan sebagai ‘2 orang, bermacam-macam motif yaitu num-zero-sum game’. Arti ini bahwa dua orang dipersulit, dimana setiap dari mereka mengalami sebuah konflik diantara dimotivasi untuk bekerja sama atau berkompetisi dengan hasil yang dapat menguntungkan atau justru merugikan kedua pihak. Perbedaannya, pada zero-sum game adalah dimana salah satu pihak diuntungkan dan pihak lain justru dirugikan.

The Trucking Game

Dalam permainan ini, dua perusahaan angkutan barang, Acme dan Bolt, yang mana mereka mengantar barang dari satu tempat ketempat lainnya (Deutsch & Krauss, 1960). Tiap perusahaan memiliki rute privat sendiri, tetapi ada satu rute jalan yang menghubungkan kedua perusahaan. Dimana rute tersebut merupakan jalan potong yang dapat mempersingkat tujuan ke dua perusahaan. Namun ada satu kekurangan, rute tersebut merupakan jalan pedesaaan yang sempit. Sehingga untuk dapat digunakan kedua perusahaan harus saling bekerja sama untuk sepakat menentukan waktu-waktu salah satu perusahaan mendapat giliran untuk memakai rute tersebut. Jika rute tersebut dipakai salah satu perusahaan misalnya Bolt maka Bolt tidak saling tabrakan di tengah jalan dengan perusahaan Acme. Bila kedua perusahaan mau saling bekerja sama dalam memanfaatkan rute tersebut, dapat dipastikan penghasilan kedua perusahaan dapat meningkat. Tetapi jika kedua perusahaan tidak mau saling bekerja sama, justru saling mengklaim sebagai pemilik yang sah dari rute tersebut maka dapat dipastikan rute tersebut tidak akan terpakai dan penghasilan kedua perusahaanpun tidak meningkat secara signifikan.

Game ini menonjolkan konsekuensi yang merugikan dari kekurangpercayaan yang telah menjelaskan analogi dunia nyata. Contohnya, ketidakpercayaan diantara Irak dan Iran yang mengobarkan konflik mengerikan dari awal hingga akhir perseteruan dikarenakan pengakuan sepihak terhadap Shatt-al-Arab (daerah penghasil minyak). Tetapi mereka dapat kita lihat, tidak mau saling bekerja sama sehingga bila mereka mau menelusuri akibat dari konflik yang meraka tiimbulkan di tahun 1988, banyak warga sipil dan militer yang menjadi korban ketika perang yang mereka mulai selama 8 tahun tersebut.

The Commons Dilemma

Banyak dilema-dilema sosial mencakup sejumlah individu-individu dan kelompok yang mengeksploitasi sumber daya yang terbatas (Foddy, dll., 1999; Ker and Park, 2001). Ini pada dasarnya merupakan n-person prisoner’s dilemmas, dimana jika setiap orang bekerja sama maka solusi yang optimal untuk semua orang tercapai, tetapi jika setiap orang berkompetisi makasetiap orang akan kalah.

The common dilemma disebut juga tragedy of the commons; nama ini berasal dari padang rumput umum di desa Inggris. Orang-orang bebas menggembalakan ternak mereka di tanah ini, dan jika semua menggunakannya dalam taraf sedang maka tanah ini akan kembali dengan sendirinya dan akan terus menguntungkan mereka semua.

Sosial dilemma yang lain yaitu public goods dilemma. Barang public dimiliki oleh semua orang dan karena inilah orang-orang menggunakannya tanpa memperdulikan pemeliharaannya. Timbul free-rider effect dimana orang-orang tertarik dengan sendirinya untuk mengeksploitasi sumber daya tanpa menjaganya.

Penelitian eksperimental tentang sosial dilemma menunjukkan bahwa ketika kepentingan diri sendiri dihadapkan pada barnag milik bersama, hasilnya adalah kompetisi dan hancurnya sumber daya. Sejumlah penelitian oleh Brewer dkk mengidentifikasikan satu kondisi yang memungkinkan hal di atas dapat terjadi.. Penelitian yang sama juga mengidentifikasikan bahwa ketika grup yang berbeda memiliki akses tentang barang publik, kemudian kompetisi intergroup yang berikutnya menjamin aksi etnosentris yang jauh lebih destruktif dibandingkan kepentingan diri sendiri.

Referensi:

Hogg, MA., Vaughan, GM., 2002. Social Psychology. Harlow: Prentice Hall.

Posted in: Konseling