Fobia Tikus: Studi Kasus

Posted on May 17, 2011

0


Bagaimana sih seseorang bisa mengalami ketakutan yang tidak biasa terhadap suatu objek, salah satunya adalah tikus? Bagaimana cara penanganannya? Berikut dibawah ini ulasan studi kasus dan salah satu upaya penanganan fobia tikus. Fobia ini dialami oleh seorang siswa sekolah yang mengalami ketakutan pada tikus.
Sebut namanya X, X adalah anak laki-laki yang berusia 15 tahun. Ia memiliki fobia terhadap tikus. Jika melihat tikus di dekatnya, ia akan menjerit-jerit dan melompat-lompat. Tetapi bila tikus berada jauh darinya namun masih berada dalam lingkup pandangannya, ia mengaku merasa ‘jijik dan geli’ dan terlihat terjadi refleks menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng, seakan-akan kehadiran tikus tersebut seperti ‘mengontak’nya.
Ketika X diminta untuk membayangkan seekor tikus, ia juga mengaku merasa ‘jijik dan geli’ dan kemudian tampak terlihat melakukan gerak refleks yang sama yaitu menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng. Prilaku ini terlihat selalu timbul setiap ia membayangkan seekor tikus ataupun melihat tikus. Tetapi jika dihadapkan pada gambar tikus, ia merasa baik-baik saja dalam arti tidak merasa ‘geli’ dan tidak terjadi refleks yang biasanya selalu muncul setiap ia merasa ‘geli’ karena melihat tikus.
Sedangkan dalam kesehariannya, saat X sedang berada di rumah dan mendengar suara-suara gemuruh di loteng ataupun di sudut rumah, ia akan menganggap bahwa suara itu berasal dari aktivitas tikus dan kemudian mencoba mengusir tikus tersebut dengan berkata, “Hussshssss.. husshhssss.. Huuuussshhhh!” berulang-lang kali hingga suara gemuruh yang dianggapnya sebagai hasil dari aktivitas tikus tidak terdengar. Namun bila tikus tersebut terlihat olehnya (bukan didekatnya, tetapi masih terlihat dalam cakupan pandangannya) ketika ia di dalam rumah, X berusaha memanggil anggota keluarga yang ada di rumah supaya mengusir tikus tersebut.
Fobia ini mulai terjadi ketika ia kelas 3 SD. Hal tersebut disebabkan karena trauma yang dialaminya saat ia akan pergi ke sekolah. Ketika itu, ia pergi ke sekolah bersama ayahnya dengan sepeda motor, ia melihat seekor tikus besar menyeberang menuju ke arahnya dan tanpa sengaja X melihat tikus tersebut tepat dimatanya, dan tiba-tiba sebuah truk melintas menggilas tikus tersebut hidup-hidup. X melihat badan tikus tersebut pecah dengan isi perut dan darah tikus yang berhambur di jalan raya. Sesampai di sekolah, X merasa merinding dan slalu terbayang-bayang kejadian tersebut. Semenjak itulah, X selalu merasa jijik dan takut pada tikus.
PEMBAHASAN:
Pada kasus ini terlihat bahwa X adalah seorang anak laki-laki yang abnormal karena ia bersikap tidak wajar (normal) pada seekor tikus, yang mana pada umumnya orang yang normal tidak bereaksi berlebihan dengan seekor tikus selayaknya X.
Perlu kita ketahui sebelumnya bahwa sesuatu di katakan normal yaitu segala sesuatu bentuk perilaku dan sikap yang tidak menyimpang secara mencolok dari kebiasaan, rata-rata atau norma pada umumnya. Jika digambarkan dalam statistik, merupakan distribusi yang tidak menyimpang secara signifikan dari suatu kurva normal.
Sedangkan sesuatu dikatakan abnormal yaitu apabila menyimpang dari suatu standar yang bisa berarti di atas normal atau di bawah normal. Dalam contoh kasus diatas maka dapat kita lihat bahwa secara statistik, orang-orang yang memiliki ketakutan/kecemasan yang berlebihan pada seekor tikus sangatlah jarang dalam arti jumlah mereka sangat sedikit sehingga dapat dikatakan bahwa mereka adalah orang yang abnormal karena berbeda dari kebanyakan orang-orang pada umumnya.
X juga memiliki karakteristik abnormal lainnya yaitu unexpectedness dimana X tidak mampu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan dirinya. X sebenarnya tidak ingin berperilaku berlebihan dengan seekor tikus, tetapi bila ia berhadapan dengan atribut apapun yang mirip tikus maka ia tiba-tiba/secara spontan akan melakukan gerak refleks yang sama yaitu menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang bahkan bila tikus tersebut didekatnya maka ia akan menjerit dan melompat-lompat sebisanya.
Keadaan X juga dapat dikatakan sebagai disorder yaitu anxiety disorder (spesifik fobia). Anxiety disorder (spesifik fobia) merupakan suatu periode dimana secara tiba-tiba muncul serangan ketakutan, rasa di teror yang sering diasosiasikan dengan perasaan seperti akan mati yang sangat intens. Dimana ketakutan tersebut disebabkan oleh ketakutan terhadap objek atau situasi, yang sering mengarah kepada tindakan penolakan. Disorder ini menimbulkan simptom berupa gemetar, debaran jantung, keringat dingin, sulit bernafas, dan lainnya. Simptom ini telah di alami X yaitu seperti gemetar, debaran jantung yang mengencang dan keluarnya keringat dingin dari tangannya serta gerak refleks menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang.

Jenis intervensi yang direkomendasikan: Behavioral Theraphy
Pada jenis kasus X yang takut pada tikus, dapat menggunakan teknik perubahan perilaku dari behavioral therapy yaitu systematic desensitization. Pendekatan ini dilakukan dengan menghadirkan stimulus yang menimbulkan distress yang kecil hingga distress yang besar.
X di tuntun untuk rileks di sebuah ruangan, yaitu salah satu contohnya dengan menghadirkan musik klasik atau musik kesukaan X ataupun makanan kesukaan X. Perlakuan ini harus selalu dilakukan setiap awal peningkatan tahap terapi yaitu pemberian relaksasi. Setelah X terlihat tenang maka desensitization pun dapat dimulai.
Pertama, X diperlihatkan gambar seekor tikus, jika X merasa baik-baik saja dan tidak merespon distress yaitu merasa ‘geli dan jijik’ serta berefleks menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng, maka desensitization kedua dapat dilakukan.
Kedua, X diberikan bulu atau attribut salah satu bagian tikus untuk diperlihatkan dan disentuh oleh X. Dalam tahap ini, X harus terbiasa pada attribut tersebut dan tidak merasa distress yaitu merasa ‘geli dan jijik’ dan hilangnya gerak refleksnya yaitu menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng.
Ketiga, X diberikan boneka yang mirip tikus. Bila X dapat menangani distressnya yaitu merasa ‘geli dan jijik’ dan disertai gerak refleks yang biasa mengikutinya maka ia dapat lanjut menghadapi tahap keempat terapi yaitu melihat tikus yang sebenarnya. Tetapi bila X tidak dapat mengatasi distressnya pada tahap ini, maka dapat dilakukan pendekatan modelling atau pembelajaran observasional yaitu X melihat seseorang yang memiliki fobia tikus seperti dirinya berhasil melewati tahap-tahap terapi dan pada akhirnya berani untuk melihat tikus tanpa mengalami distress, serta mendapat reward ketika berhasil melakukannya.
Ketika pendekatan modelling berhasil membuat X tidak mengalami distress yaitu merasa ‘jijik dan geli’ terhadap boneka tikus, maka X dapat melanjutkan terapi tahap berikutnya.
Keempat, X diperlihatkan video tikus hingga perasaan ‘geli dan jijik’ dan gerak refleks yang biasa di alami X tidak muncul.
Kelima, tikus diletakkan di dalam kandang jauh dari X tetapi masih dalam cakupan penglihatan X. Bila X ternyata menunjukkan prilaku hanya merasa ‘geli dan jijik’ bukan menjerit dan melompat-lompat berusaha pergi, maka X telah berhasil melewati tahap ini dan tahap keenam dapat dilakukan.
Keenam, ini merupakan tahap akhir dari terapi, yaitu Stimulus sebenarnya dihadirkan dekat dengan X. Pada tahap ini X diharapkan tidak menunjukkan sikap awalnya sebelum terapi dilakukan yaitu menjerit-jerit dan melompat-lompat, tetapi ia diharapkan hanya merasa ‘geli dan jijik’ atau hanya menunjukkan gerak refleks yang biasa terjadi padanya bila melihat seekor tikus yaitu menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng.
Karena terapis ini dilakukan untuk berupaya mereduksi ketakutan yang dialami X di bawah sadarnya dikarenakan trauma mendadak yang dialaminya ketika di sekolah dasar yaitu bayangan kejadian ketika ia melihat tikus tertabrak di depannya.
Bila di tahap akhir ini, X menunjukkan prilaku yang diharapkan yaitu hanya merasa ‘geli dan jijik’ atau hanya menunjukkan gerak refleks yang biasa terjadi padanya bila melihat seekor tikus yaitu menggerak-gerakkan bahu kekiri-kekanan-kedepan-kebelakang, diikuti dengan gerakan kepala seperti menggeleng maka dapat dikatakan terapi ini berhasil. Bentuk perilaku yang diharapkan timbul ini sesuai dengan prilaku orang normal (umumnya) ketika melihat seekor tikus ataupun yang melintas di depannya.

Posted in: Konseling