Teror Bom Bali

Posted on May 17, 2011

2


Teror bom Bali merupakan kejahatan kemanusiaan dan menimbulkan tragedi yang sangat mengerikan. Peristiwa teror Bom Bali ini menjadi indikator dan bukti penting tentang pendapat dan penilaian akan adanya jaringan terorisme yang menyebarkan teror, kekerasan dan mengancam rasa aman masyarakat.
Tragedi pengeboman yang terjadi pada malam hari, tepat pada tanggal 12 Oktober 2002, terjadi di kota kecamatan Kuta di Pulau Bali, Indonesia.
Dimana persis lokasinya di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali. Dua bom meledak dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu pukul 23.05 WITA. Lebih dari 202 orang menjadi korban tewas keganasan bom itu dimana diyakini 38 orang diantaranya merupakan penduduk bali setempat dan selebihnya merupakan wisatawan asing, sedangkan 209 orang lebih lainnya luka berat maupun ringan.
Kurang lebih 10 menit kemudian, ledakan kembali mengguncang Bali. Pada pukul 23.15 WITA, bom meledak di Renon, berdekatan dengan kantor Konsulat Amerika Serikat. Namun tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Tragedi dari bom ini tidak hanya meninggalkan kepedihan karena kematian. Ratusan orang kini terancam terkena gangguan kejiwaan ringan hingga berat seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Yang merasakan dampak dari kejadian ini bukan hanya pihak yang menjadi korban langsung tetapi juga saksi yang melihat kejadian mengerikan itu yang berpotensi terkena gangguan.
Contohnya saja, diketahui seorang lelaki yang sempat mendengar suara ledakan bom tanggal 1 Oktober 2005 lalu, entah apa sebabnya, kini ia suka kaget dan spontan berlari bila mendengar dering HP. Lelaki lain, sebutlah namanya Bawa, sempat menyaksikan seorang waiter di RAja’s Café sedang membawa nampan berjalan persis ke arah ledakan. Hingga kini Bawa terus saja tak bisa melupakan kejadian itu dan menghantuinya hingga ke dalam mimpi.
Sedangkan, Hayati Eka Laksmi yang suaminya meninggal dalam kasus bom Bali I dan kini menjadi pekerja sosial dan juga sebagai terapis bersama Yayasan Kanaivasu, menceritakan seorang perempuan 29 tahun hingga kini tidak berani pergi ke WC sendiri, takut ada bom. “Ia juga suka berdebar-debar setiap kali melihat orang menggendong ransel,” tutur Eka. “Bahkan ia baru berani keluar rumah sehari sebelum datang ke pos konseling di Jimbaran,” tambah Eka. Hal yang juga menyedihkan, beberapa korban bom Bali I, tiga tahun lampau, datang berkonsultasi karena trauma lama yang sempat mereda tiba-tiba kambuh lagi.

Referensi
http://www.oocities.com
http://www.ketutwardi.wordpress.com
http://www.wikipedia.co.id
http://www.detiknews.com

Posted in: Konseling