Menikah Kembali (Remarriage)

Posted on May 28, 2011

0



Keluarga remarriage (kadang-kadang disebut sebagai binuclear family) dikelompokkan kedalam kategori-kategori berdasarkan susunan keluarga. Pasangan dengan salah satu pasangan yang menikah kembali meliputi keluarga dengan:
1. Tanpa anak
2. Memiliki anak bersama
3. Anak dari keluarga ayah tiri
4. Anak dari keluarga ibu tiri
5. Anak bersama ditambah anak dari ibu tiri
6. Anak bersama ditambah anak dari ayah tiri
7. Anak dari kedua pasangan (kedua orangtua tiri-yang mana pria/wanita memiliki anak di luar ikatan perkawinan)
Pasangan dengan kedua pasangan yang menikah kembali meliputi keluarga dengan:
1. Tanpa anak
2. Memiliki anak bersama
3. Anak dari keluarga ayah tiri
4. Anak dari keluarga ibu tiri
5. Anak bersama ditambah anak dari ibu tiri
6. Anak bersama ditambah anak dari ayah tiri
7. Anak dari kedua pasangan (kedua orangtua tiri-yang mana pria/wanita memiliki anak di luar ikatan perkawinan)
8. Anak bersama ditambah anak dari kedua pasangan (orangtua kandung ditambah dua orangtua tiri)
9. Anak yang diasuh oleh Ibunya, ditambah hubungannya dengan Ayahnya yang tidak mendapat hal asuhnya
10. Anak yang diasuh oleh Ayahnya, ditambah hubungannya dengan Ibunya yang tidak mendapat hal asuhnya
Hubungan keluarga dapat menjadi sangat rumit dalam pernikahan kembali ketika salah satu atau kedua pasangan membawa anak dari pernikahan sebelumnya dan pasangan yang menikah kembali tersebut memiliki anak dari pernikahan baru mereka.
Anak dapat mempunyai orang tua kandung ditambah ornag tua tiri, saudara kandung dan saudara tiri, kakek/nenek kandung dan tiri, paman/bibi kandung dan tiri, dll. Pasangan dewasa berhubungan satu sama lain terhadap mertua baru mereka, kakek/nenek mertua mereka, abang dan kakak ipar baru mereka. Mereka juga mungkin terus berhubungan dengan mantan mertua mereka dan kakek mertuanya, dengan mantan abang dan kakak ipar mereka dan anggota keluarga lainnya.

Dari hubungan yang kompleks tersebut terdapat pula problem-problem yang kompleks sehingga bagi mereka yang ingin mencoba menikah kembali maka ada beberapa hal yang perlu mereka perhatikan, yaitu:
1. Divorce and Succes in Remarriage
Mayoritas survey penelitian menyatakan bahwa kemungkinan perceraian sedikit lebih besar dalam remarriage dibandingkan pernikahan pertama (Booth & Edwards, 1992). Ini artinya bahwa setengah anak-anak dari orangtua yang bercerai dan menikah kembali akan mengalami perceraian orangtuanya untuk kedua kalinya (Coleman & Ganong, 1990).
Penelitian menunjukkan bahwa remarriage sama bahagianya seperti pernikahan pertama, dengan sedikit perbedaan dalam kesejahteraan partner (Demo dan Acock, 1996b; Ihinger-Tallman dan Pasley, 1997; Pasley dan Moorefield, 2004). Karena mereka memandang remarriage lebih egaliter dalam urusan pekerjaan rumah dan merawat anak (Hetherington, 1999a), kemudian lebih terbuka dan pragmatis sehingga kurang romantis, tetapi mereka lebih siap untuk menghadapi konflik (Hetherington, et al., 1992). Meskipun resiko divorce pada pasangan remarriage lebih tinggi, namun banyak dari mereka yang pada akhirnya membangun hubungan perkawinan yang positif dan kuat, serta lingkungan pengasuhan adaptif yang berfungsi dengan baik (Hetherington dan Stanley-Hagan, 1999). Disisi lain, remarriage juga memberikan tantangan pada pasangan remarriage yaitu adanya kehadiran anak tiri dari kedua atau salah satu pasangan. Dimana dalam studi Tzeng dan Mare tahun 1995 diketahui bahwa pasangan remarriage akan lebih mungkin bercerai jika salah satu atau kedua pasangan remarriage saling membawa anak dari pernikahan mereka sebelumnya karena adanya kemungkinan sulitnya orangtua tiri untuk diterima. Karena baik orang dewasa dan anak-anak harus menghadapi sikap dan pengaruh dari anggota keluarga lainnya.

2. Courtship and Mate selection in Remarriage
Cara berkenalan dan menyeleksi pasangan dalam usaha untuk menikah kembali berbeda dari cara saat pernikahan pertama. Karena, dua orang dewasa dimana secara keseluruhan, orang yang menikah kembali kemungkinan besar telah lebih matang secara emosional dan lebih berpengalaman daripada ketika mereka menikah untuk pertama kalinya. Pada masa pacaran sebelum remarriage, keintiman seksual biasanya dimulai pada awal hubungan, yang mana cenderung untuk meningkatkan keterlibatan emosional dan rasa jatuh cinta. Namun, orang tua mungkin akan ragu untuk tinggal bersama sebagai suami istri jika mereka merasa itu akan berdampak negatif terhadap anak-anak mereka (Lampard dan Peggs, 1999).
Psikologis juga berpengaruh dalam penyeleksian pasangan remarriage dimana beberapa orang diketahui ingin menikah dengan orang yang mirip mantan pasangannya sebelumnya. Hal ini dapat dikarenakan pasangan sebelumnya telah meninggal atau justru ia telah diceraikan sehingga ia merasa terikat pada mantan pasangannya yang sebelumnya. Kita tahu bahwa tidak ada dua orang yang sama persis di dunia ini, sehingga individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam hubungan barunya ketika ia menemukan bahwa calon pasangan barunya tidak mirip dengan pasangannya yang sebelumnya atau ketika ia berusaha menekan calon pasangan barunya agar seperti pasangannya yang sebelumnya.

3. Carrying Expectations from One Marriage to Another
Pasangan yang pertama kali menikah atau pasangan remarriage memiliki harapan yang sama banyak. Tetapi pada pasangan remarriage biasanya memiliki harapan-harapan lain yang unik dari status mereka sebagai seseorang yang telah menikah sebelumnya. Salah satunya yaitu mereka berharap bahwa pernikahan kedua mereka dalam beberapa hal akan menjadi serupa dengan pernikahan pertama. Harapan ini mungkin tidak realistik dan adil bagi si calon pasangan yang baru. Pasangan yang berharap situasi perkawinan keduanya sama dengan perkawinan pertamanya maka kemungkinan ia juga akan membuat kesalahan yang sama dalam hubungan barunya seperti pada hubungan lamanya.
Masalah yang kedua yaitu dimana pasangan yang akan menikah dengan pasangan barunya, merasa takut akan mengalami pengalaman yang sama seperti pernikahan pertamanya. Contohnya, seorang istri yang memiliki mantan suami pecandu alkohol, obat-obatan, sering selingkuh, dan sebagainya ketika ia menikah untuk keduakalinya maka ia akan terlalu oversensitif terhadap segala hal yang dilakukan atau yang dikatakan oleh pasangan barunya dimana mengingatkannya pada pengalaman buruknya yang sebelumnya.
Masalah lainnya dalam remarriage yaitu adanya kebingungan peran karena kesulitan dalam memilah apa yang diharapkan oleh pasangan baru mereka dengan mantan pasangan mereka. Keadaan ini tidak adil bagi si pasangan baru karena ia bukan mantan pasangan sebelumnya. Jadi kunci untuk menghindari hal ini adalah dengan memandang bahwa pasangan baru merupakan seorang individu yang unik dan bukan seseorang yang diharapkan untuk menjadi seperti orang lain.

4. Finances
Masalah keuangan dapat mengganggu hubungan pasangan remarriage (Mason, Skolnick, dan Sugarman, 1998). Seorang suami yang bercerai dengan istrinya dan memiliki anak, maka sang suami harus memberikan dukungan materi pada anaknya. Dan jika sang suami juga telah memiliki istri baru maka sang suami akan memiliki beban ganda, khususnya jika mantan istrinya ternyata tidak mampu membiayai anaknya. Bagi wanita single-parent, remarriage merupakan jalan tercepat untuk keluar dari kesulitan ekonomi yang dialaminya. Maka, akan lebih baik bagi wanita jika menikah kembali.
Dalam penelitian klasik dari Fishman (1983), ia membagi pola ekonomi yang dimiliki oleh stepfamilies, yaitu:
1. “Common-pot” yaitu dimana semua sumber daya dari keluarga digunakan untuk biaya rumah tangga
2. “Two-pot” yaitu dimana sumber daya yang ada di keluarga digunakan untuk penggunaan pribadi atau untuk anak kandung mereka
Jadi, Fishman menemukan bahwa sistem common-pot lebih menyatukan stepfamilies, sedangkan sistem two-pot lebih mendorong pada loyalitas biologis dan otonomi pribadi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, menikah kembali (remarriage) merupakan hubungan yang sangat kompleks sehingga jika Anda ingin remarriage maka Anda harus lebih mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan muncul ketika remarriage. Jika Anda dapat melakukan persiapan dalam menghadapi masalah-masalah yang akan mungkin muncul maka Anda akan berhasil dalam remarriage.

Referensi:
DeGenova, Mary Kay. 2008. Intimate Relationships, Marriages & Families, 7th Ed. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Images:
http://www.more.ca/relationships/family-and-friends/remarriage-avoid-the-blended-family-breakdown/a/29507
http://chikychikypompom.blogspot.com/2011_01_01_archive.html

Posted in: Konseling