Criminal Profiling: Edmund Kemper

Posted on June 11, 2011

0


Edmund Kemper Edmund Kemper

Edmund Kemper III lahir 18 Desember 1948 (62 tahun), Santa Cruz, California merupakan seorang narapidana kasus pembunuhan berantai yang saat ini dihukum penjara seumur hidup. Sejak kecil Kemper menampilkan perilaku-perilaku tidak normal, yang terlihat dari kesadisannya membunuh dan memenggal kucing peliharaan kakaknya, memotong kepala dan tangan boneka kakaknya atau cara bermainnya yang aneh. Dimana sebagian anak-anak kecil sebayanya bermain memodelling pahlawan super mereka, tetapi Kemper justru bermain berpura-pura mati menggelepar-lepar sesak nafas karena keracunan gas dalam sebuah kamar gas bersama adiknya. Kemper dimasa kanak-kanak diketahui mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan teman sebayanya. Ia takut kontak intim dengan orang lain. Pada usia 9 tahun, kedua orangtua Kemper berpisah dan Kemper akhirnya tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama karena ia kemudian dikirim oleh ayahnya untuk tinggal bersama nenek (66 tahun) dan kakeknya (72 tahun) karena ayahnya menikah dengan wanita lain bersama anak tirinya. Hubungan diantara kakek dan nenek Kemper dengan Kemperpun juga kurang harmonis. Karena Neneknya sama seperti Ibunya yang selalu mendorongnya dan mengatakan padanya apa yang harus ia lakukan.

Pada usia 15 tahun tanggal 27 Agustus 1964 ia mengambil senapan, mengangkatnya ke kepala neneknya dan menarik pelatuknya. Ia menusuk tubuh neneknya berkali-kali dengan pisau dapur dan menyeret tubuh neneknya ke kamar tidur. Dia kemudian menembak kakeknya saat kembali ke rumah. Ia lalu tidak tahu apa yang kemudian yang harus ia lakukan sehingga ia menelepon ibunya dan menceritakan apa yang telah terjadi dan menunggu kedatangan polisi dengan sabar. Ketika polisi tiba dan menanyakan apa yang telah terjadi, Kemper hanya menjawab, “Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menembak nenek “. Kemper dikirim ke Atascadero State Hospital untuk perawatan pada bulan Desember 1964 di unit the criminally insane. Setelah pemeriksaan psikologis, Kemper diketahui memiliki IQ 145 dan memiliki personality trait disturbance, passive-aggressive type. Karena Kemper begitu cerdas dan cerdik, ia mendapat izin untuk mengakses dan membantu para dokter melakukan penilaian tes mental. Kemper tidak melewatkan kesempatan tersebut, ia menghafalkan jawaban-jawaban yang benar dari 28 instrumen psikologis yang berbeda. Hal ini yang akhirnya membantu ia menyakinkan para dokter-dokter yang memeriksanya bahwa ia aman bila dibebaskan di usia 21 tahun dimana beratnya saat itu 150 kg dengan tinggi mencapai lebih dari 2 meter.

Atascadero State Mental Hospital Atascadero State Mental Hospital

Pada usia 21 tahun, Ia dibebaskan bersyarat dan dikirim untuk tinggal bersama ibunya di Santa Cruz meskipun para psikiater Kemper menyarankan agar Kemper tidak dikembalikan pada Ibunya jika tanpa pengawasan karena dapat memicu lebih banyak kekerasan. Di saat usia menjelang dewasa ini, Kemper mengalami masalah dalam berkencan dengan lawan jenis, Kemper menganggap bahwa itu semua karena Ibunya. Ibunya selalu mengatakan bahwa Kemper tidak pantas berkencan dengan gadis-gadis karena perilakunya yang “aneh”. Sehingga di usianya yang beranjak dewasa ini, Kemper masih perjaka. Untuk melampiaskan seksualitasnya, Kemper sering menggunakan majalah porno dan detektif atau stimulasi-stimulasi yang berbau kriminal untuk merangsang gairah seksnya.

Kemper kemudian masuk ke perguruan tinggi sebagai persyaratan pembebasannya dan Kemper melakukanny adengan baik, tetapi ia berharap ia dapat masuk ke akademi kepolisian suatu hari nanti. Dia bekerja sebagai buruh, membeli mobil dan mulai koleksi pisau dan senapan. Kemudian ia berhenti dari pekerjaan sebelumnya lalu mendapat pekerjaan di California Highway Departemen yaitu sebagai polisi jalan raya. Ia di terima dalam departemen itu karena para juri polisi menganggap Kemper sebagai pemuda yang sopan, bersuara lembut, pidatonya cerdas dan artikulatif. Ketika ia telah menabung cukup uang, ia kemudian pindah dari rumah Ibunya dan tinggal di apartemen bersama temannya. Tetapi ia sering kehabisan uang dan kadang-kadang ia terpaksa harus tinggal bersama Ibunya kembali.

Ketika ia berpatroli melewati jalan raya di daerah jalur pulang para mahasiswa, ia melihat para perempuan muda berlalu lalang. Kemper kemudian berpikir tentang apa yang bisa ia lakukan untuk mereka. Diam-diam ia menyiapkan mobil untuk apa yang ada di dalam pikirannya, menyiapkan kantong plastik, pisau, selimut dan borgol yang ia letakkan di bagasi mobil. Dia berkeliaran di jalan raya, berhenti untuk memberi gadis-gadis tumpangan dalam mobilnya. Itu semua adalah bagian dari sebuah rencana yang ia mulai dioperasikan pada tahun 1972, ketika dimulainya laporan bahwa para mahasiswi mulai menghilang. Dimana pada tanggal 7 mei 1972 dilaporkan bahwa Mary Ann Pesce & Anita Luchessa menghilang. Mereka diketahui menumpang mobil seseorang dari Fresno State College ke Stanford University. Tetapi kemudian gadis-gadis tersebut tidak tiba di tempat tujuan mereka sesuai waktu yang mereka janjikan serta tidak pulang selama berhari-hari sehingga pihak keluarga mereka menghubungi polisi. Pada tanggal 15 Agustus 1972 ditemukan sisa-sisa kepala perempuan di daerah pegunungan yang diidentifikasi sebagai Mary Ann Pesce dan tidak ada sisa-sisa lain yang ditemukan, tetapi polisi mengamsumsikan bahwa mereka bertemu orang jahat dan membunuh mereka.

Bra Mary Ann Pesce Bra Mary Ann Pesce

Pada tanggal 14 September 1972, seorang siswa tari yang bernama Aiko Koo menghilang di Berkeley. Sedangkan pada awal tahun 1973, Cindy Schall menghilang saat akan pergi ke Cabrillo Community College. Seseorang melihat ia mendapat tumpangan dan kemudian pergi begitu saja. Kurang dari dua hari kemudian, ditemukan lengan, kaki dan tubuh bagian atas wanita yang telah terpotong-potong di tebing yang menghadap Samudra Pasifik. Setelah paru-paru dari tubuh tersebut diidentifikasi dengan sinar X, diketahui bahwa tubuh tersebut sebagai Schall. Tetapi kepala dan tangan kirinya masih belum ditemukan. Kemudian pada tanggal 05 Februari 1973, dua orang wanita yang bernama Rosalind Thorpe dan Alice Liu dinyatakan menghilang.

Lokasi Penemuan Potongan Tubuh Cindy

Berdasarkan keterangan koran setempat, pembunuh menempatkan mayat-mayat pada posisi kepala miring dan lebih rendah dari kaki sehingga darah akan mengalir keluar dan proses pemotongan menjadi lebih mudah. Reporter koran lokal tersebut, Marilyn Barker, juga menyebutkan bahwa sebelum dibunuh, para korban di tahan dalam jangka waktu tertentu sebelum dibunuh. Kemudian pada tanggal 04 Maret 1973, beberapa pejalan kaki menemukan sebuah tengkorak dan rahang manusia di Highway 1 San Mateo County. Setelah polisi memeriksa tempat kejadian, polisi menemukan tengkorak dan tulang rahang lagi. Polisi kemudian memeriksa daftar orang hilang dan kemudian membandingkan tengkorak dan tulang rahang tersebut dengan ciri Rosalind Thorpe dan Alice Liu. Polisi mendapatkan hasil bahwa Liu ditembak sebanyak dua kali di kepala, sedangkan Thorpe satu kali. Kasus-kasus pembunuhan, pemerkosaan dan serangan tersebut membuat kepanikan di daerah tersebut.

Bulan April 1973 Edmund Kemper membunuh ibunya, Clarnell Strandberg di jumat agung. Ia memotong kepala ibunya, mencabut laring tenggorokan ibunya, memotong lidah ibunya dan menjadikan kepala ibunya sebagai sasaran anak panah. Kemudian ia pergi minum bersama teman-temannya dan meminta teman ibunya, Sally Hallet, untuk datang makan malam dan nonton film. Kemper merasa senang bila memikirkan ketika ia pulang, ia akan membunuhnya juga. Setelah ia pulang, ia mendapati teman ibunya dan kemudian memenggal kepala teman ibunya dan memasukkan kepala ibu dan teman ibunya ke dalam lemari. Setelah kejadian ini, Kemper yakin bahwa akan ada yang menemukan mayat mereka dan mengkaitkan pembunuhan tersebut dengannya. Kemperpun pergi dengan mobil Sally, ketika ia menyetir, ia menyalakan radio berharap akan mendengar di berita bahwa seseorang telah menemukan mayat di rumah Ibunya. Namun berita tersebut tidak ada dan ia merasa kecewa. Pada saat mencapai Pueblo, setelah berkendaraan 1.500 mil jauhnya, Kemper memutuskan untuk mengakui perbuatannya. Ia pun pergi ke telepon umum dan menelepon polisi.

Rumah Edmund Kemper

Pada tanggal 23 April 1973, Kemper dengan tenang menelepon polisi, mengatakan siapa dia dan menceritakan apa yang telah ia lakukan pada ibunya dan meminta polisi memeriksa rumahnya. Namun polisi tahu Kemper dan berpikir dia bercanda, tetapi ketika ia memberi mereka gambaran grafik gambaran-gambaran pembunuhan yang ia lakukan, mereka tahu bahwa ia pembunuh. Polisi kemudian mmeriksa rumah Kemper. Ketika tiba di rumah Ibu Kemper, mereka mencium bau amis, mereka membuka lemari yang di ceritakan oleh Kemper dan menemukan kepala Ibu Kemper babak belur karena digunakan sebagai sasaran anak panah.

Penggeledahan Rumah Kemper

Penyidikpun akhirnya menyadari mengapa mereka selama ini tidak bisa menangkap pembunuh berantai para perempuan di kota mereka tersebut selama begitu lama. Karena selama ini dalam setiap rapat perincian penyelidikan di ruang juri, Kemper selalu diikutsertakan. Sehingga hal tersebut memberikan Kemper kesempatan untuk menganalisis apa yang telah ia lakukan dan belajar untuk menyempurnakan tekniknya. Ia menemukan strategi bagaimana cara menangkap korban-korbannya agar ikut ke dalam mobilnya meskipun peringatan-peringatan dikeluarkan utnuk siswa di daerah tersebut, membuat orang merasa aman berada didekatnya dan cara-cara untuk menghindari tangkapan polisi.

Setelah menyerahkan diri dan diintrogasi Kemper mengaku telah membunuh, mutilasi, necrophilia, kanibalisme dan sadisme. Dia juga memberikan rincian pembedahan pada polisi, pemenggalan kepala dan penguburan. Dia berusaha melakukan hubungan seksual dalam beberapa kasus pada mayat-mayat, dan mengakui bahwa ia merasa bergairah ketika memenggal kepala korbannya. Kemper sebelumnya membunuh ibunya dengan memukulnya dengan palu dan mencekik teman Ibunya, kemudian memenggal kepala dan tubuh mereka. Setelah dia membunuh ibu dan teman Ibunya, ia bermain lempar anak panah dengan kepala ibunya sebagai sasaran dan melemparkan laring dan potongan lidah ibunya ke dalam tempat sampah setelah mengeluarkannya dari wajah mereka.

Hasil Koleksi Foto Korban Kemper

Kemperpun mengaku ketika ia membunuh para gadis-gadis yang ia berikan tumpangan, ia membunuh gadis tersebut dengan mencekiknya dan memenggal kepala mereka kemudian membawanya ke apartemennya. Membungkus tubuh mereka dengan selimut dan membentangkan mereka di lantai.

Setelah ia memotong-motong tubuh mereka, ia memotretnya dan berhenti tiap beberapa saat untuk menikmati saat-saat erotis bahwa ia memiliki mereka sepenuhnya. Ia kemudian melakukan oral seks dengan kepala mereka yang telah terpotong. Ia juga mengaku, keinginan membunuhnya muncul setiap ia bentrok dengan ibunya. Kemudian untuk mempermudah aksinya, Kemper membeli pistol kaliber 22, dan selanjutnya ia menggunakan pistol tersebut untuk membunuh para korbannya. Untuk menghilangkan jejak, Kemper membuang potongan-potongan tubuh korbannya ke laut dan bukit-bukit secara terpisah dan mengubur korban-korbannya di halaman belakang rumahnya.

Pemeriksaan TKP

Ia diseret di Santa Cruz pada April 1973 di delapan tuntutan pembunuhan tingkat pertama. Kemper mengatakan korban-korbannya, “Mereka sudah mati dan aku masih hidup. Itulah kemenangan dalam kasus saya,” Kemper meminta hukuman mati, tetapi pengadilan memvonisnya untuk penjara seumur hidup meskipun ia telah mencoba untuk bunuh diri dua kali, tetapi gagal. Kemper akan melaksanakan sidang terakhirnya pada awal 2012 ini, dimana usianya akan genap 63 tahun.



PEMBAHASAN KASUS

Dalam kasus kriminal atau kejahatan, criminal profilling dibutuhkan untuk membantu menganalisis dan memberikan informasi khusus tentang tipe tertentu dan sebagai sketsa biografi dari perilaku, trend, dan kecenderungan pada seorang tersangka.

Dalam kasus ini data profilling yang dimiliki oleh pihak kepolisian yaitu bukti fisik, foto-foto TKP, hasil otopsi laporan dan gambar, keterangan saksi, laporan informasi latar belakang dari saksi dan polisi. Dari TKP dan barang bukti yang ada dari korban, psikolog forensik dapat melihat beberapa indikasi perilaku pelaku dari tanda-tanda yang ada pada korban untuk membuat perkiraan profil kriminal pelaku, yaitu seperti:

Bukti Fisik :
– Kemungkinan pelaku adalah seorang pria yang berbadan cukup kekar, hal ini terlihat dari perilaku pelakuyang dapat mengangkut dan memindahkan korban-korbannya dan kemudian memotong-motongnya. Dimana korban yang diculiknya adalah dua orang sehingga diperlukan badan dan tenaga yang besar untuk memindahkan atau mengatasi jejak korban-korbannya dari TKP.
– Pelaku berkemungkinan adalah seseorang yang memiliki kesamaan atribusi pada korban karena pada saat kejadian, para korban yaitu para siswi/mahasiswi telah diperingatkan untuk tidak pergi atau menerima tumpangan dari orang asing. Tetapi hal tersebut ternyata tidak berlaku bagi si pelaku karena meskipun pemerintah lokal telah memberikan peringatan, pelaku masih dapat menjerat korban-korbannya. Sehingga diasumsikan mungkin tidak memiliki atribusi yang umumnya membuat orang lain tidak aman. Contohnya, mungkin pelaku bukan dari ras kulit hitam yang umumnya sering mendapat streotype negatif sehingga kemungkinan korban bersedia menumpang akan sangat kecil.

Bukti Psikologi :
– Pelaku dapat dianggap tidak memiliki keterikatan emosional pada korban dan tempat pembunuhan. Dimana ia membunuh hanya untuk kesenangannya saja karena dalam membunuh korban-korbannya, pelaku tidak terikat pada satu lokasi saja, tetapi dia membunuh di banyak lokasi secara acak sehingga diasumsikan bahwa pelaku tidak memiliki pengalaman emosional pada suatu tempat. Serta pelaku juga membunuh para korban wanitanya secara acak tanpa adanya ciri-ciri khusus yang menyamakan satu korban dengan korban lainnya. Contohnya, para korban wanitanya semua berambut merah, dsb.
– Pelaku juga kemungkinan adalah seorang yang cerdas, karena pelaku dalam melakukan kejahatan tidak meninggalkan barang bukti yang bisa menjadi alat bagi polisi dalam mengacak pelaku. Contohnya, pada kasus pembunuhan Miss Thorpe dan Liu, dimana saat penemuan tengkorak mereka ditemukan lubang tembakan. Tetapi di dalam tengkorak tidak ditemukan peluru dari penembak sehingga ini menyulitkan polisi untuk melacak pelaku dari kepemilikan senjatanya. Hal ini menunjukkan bahwa telah memikirkan untuk menghapus jejak yang dapat membuatnya tertangkap sehingga ia menghapus dan membersihkan bukti-bukti yang mengarah pada dirinya.
– Berdasarkan referensi (www.criminalprofiling.ch), diketahui bahwa luka-luka wajah yang brutal pada korban menunjukkan bahwa pelaku tahu korban-korban mereka. Hal ini dapat terlihat pada saat Ibu Kemper menjadi korban, dimana wajah Ibunya ketika ditemukan terlihat babak belur karena dijadikan sasaran anak panah, sedangkan para korban wanita Kemper lainnya tidak mengalami kerusakan di wajah.
– Dari uraian dan analisis di atas untuk sementara, motif pelaku dalam membunuh korban yaitu kemungkinan karena untuk kesenangan pelaku, tidak ada pangalaman emosional pelaku pada korban-korbanya karena wajah korban tidak dilukai secara brutal dengan cara yang sadis yang mana menunjukkan bahwa korban adalah orang yang dikenal pelaku dan pelaku adalah orang yang cerdas karena dalam melakukan tindak kejahatannya ia tidak meninggalkan barang bukti yang dapat mengarahkan perbuatannya padanya.

Berdasarkan Teori :
Dalam kasus ini, pendekatan profiling kriminal yang digunakan oleh pihak kepolisian adalah:
– Profiling kriminal dari karakteristik kejadian kejahatan
Dalam kasus pihak kepolisian menganalisis TKP dalam menentukan modus operandi dan signaturenya, yaitu :

Modus Operandi :
Standar prosedur yang dilakukan oleh pelaku dalam membunuh korbannya;
Pertama, pelaku memberikan tumpangan pada korban
Kedua, korban dibunuh dengan digorok atau di tembak
Ketiga, tubuh korban di potong-potong
Keempat, mayat-mayat dari tubuh korban dibuang secara terpisah yaitu dilaut dan dibukit-bukit

Signature :
Tanda kriminalitas yang mencerminkan keunikan, aspek-aspek pesonal pada tindakan kriminal atau seringnya merefleksikan ekspresi dari kejahatan perilaku.
– Para korban adalah wanita,
– Pada tubuh korban, pelaku selalu memotong tubuh korbannya terutama memenggal kepala korban dan melepaskan laring (pangkal tenggorokan) korban.
– Tubuh korban yang telah di mutilasi, di buang di tempat-tempat berbeda.

Hukuman atas Kasus Pembunuhan di Indonesia
Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Kemper bila terjadi di negara Indonesia maka Kemper dapat dijerat dengan hukum Indonesia dengan pasal berlapis tentang kejahatan terhadap nyawa, yaitu:
– Pasal 338 KUHP, “Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Jadi dalam kasus ini, Kemper diketahui sengaja merampas nyawa para korban-korbannya yaitu membunuhnya dengan memutilasi para korbannya. Maka Kemper dapat dikenai hukuman 15 tahun penjara.

– Pasal 339 KUHP, “Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainny adari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”
Dalam hal ini, Kemper selain membunuh ia jug atelah mempersiapkan apa yang akan dilakukannya. Ini terlihat dari caranya yang telah mempersiapkan mobil, gambar stiker-stiker universitas untuk mempermudahnya masuk kedalam kawasan universitas tanpa dicurigai, mempersiapkan plastik, slimut dan pistol dibagasi mobilnya. Maka Kemper juga dapat dikenai hukuman penjara seumur hidup.

– Pasal 340 KUHP, “Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”
Kemper juga dapat dikenai pasal 340, karena selain mempersiapkan alat-alat untuk mempermudah ia melakukan aksinya, ia juga merencanakannya dengan matang yaitu dengan memiliih tempat-tempat yang ia yakin mungkin peluang mendapat korban lebih besar. Sehingga dalam pasal ini, ia pun akan dikenai penjara seumur hidup.
Jadi dari uraian pasal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kemper dalam menjalankan aksinya, ia telah mempersiapkan dan merencanakannya terlebih dahulu guna untuk menghindari tertangkapnya ia oleh pihak berwenang atau kepolisian. Maka Kemper sesuai pasal 338, 339 dan 340 KUHP akan dikenai penjara seumur hidup. Namun dilain sisi, Kemper bisa mendapat pengurangan hukuman dengan catatan sesuai pasal 44 KUHP, bila:

– Pasal 44 KUHP, (1) “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit.” (2) “Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka Hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.” (3) Ketentuan tersebut dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri.
Jadi, pelaku bila setelah diasessment oleh profesionalnya dinyatakan memiliki gangguan jiwa maka di Indonesia Kemper akan mendapat penghapusan, pengurangan atau pemberatan hukum pidana bila terbukti ia justru tidak memiliki cacat jiwa.

“Referensi kasus lebih lanjut, dapat menghubungi penulis melalui email, trima kasih”