Dampak Psikososial Penyakit Jantung

Posted on October 3, 2011

0


“Apakah tidak apa-apa jika saya menyetir, melakukan tugas rumah sehari-hari, atau mengangkat barang berat?” Pasien sakit jantung sering menanyakan hal tersebut pada dokter mereka, ketakutan  bila melakukan usaha yang berlebihan dapat mengakibatkan masalah lainnnya (Erdman, 1990). Tingkat ketidakmampuan pasien mungkin akan mempengaruhi seberapa baik mereka dan keluarga mereka menyesuaikan diri pada kondisi mereka.

Mampu bekerja memiliki makna yang spesial bagi individu yang menderita masalah kesehatan yang kronis, dan korban penyakit jantung sering memandang kembali bekerja sebagai bagian penting dalam proses kesembuhan mereka (Croog, 1983). Saran mengenai kembali bekerja bergantung pada seberapa berat kondisi jantung dan tuntutan fisik dari pekerjaan (Rey, 1999). Dulu, individu disarankan menunggu paling sedikit 60 hari sebelum kembali bekerja lagi, tetapi pekerjaan dalam negara industri kurang menuntut pekerjaan fisik sekarang. Kebanyakan pasien penyakit jantung dapat lanjut bekerja dalam beberapa minggu tanpa timbulnya resiko episode cardiac yang lain (Dennis et al., 1988). Dokter sering menyarankan orang yang berpenyakit jantung untuk mengurangi usaha fisik dan stress yang mereka alami dari pekerjaan. Sedangkan saran berikutnya yaitu untuk mencari pekerjaan yang baru, yang mana hal ini munbgkin sulit untuk dilakukan, khususnya untuk orang yang berusia diatas 50 tahun atau lebih. Jika kondisi jantung mereka memerlukan pembatasan aktivitas pada pekerjaan yanbg mereka lakukan, mereka mungkin akan mengalami masalah interpersonal dengan rekan sekerja. Pasien yang mendekati usia pensiun mungkin tidak sulit  meninggalkan pekerjaan mereka jika mereka dapat. Meskipun demikian, kebanyakan pasien penderita penyakit jantung-sekitar 80%-kembali bekerja ditahun yang sama dimana mereka menderita penyakit jantung, seringnya dengan produktivitas pekerjaan yang kurabng dan jam kerja yang pendek dari sebelumnya (Doehrman, 1977; Shanfield, 1990). Dibandingkan individu yang tidak kembali bekerja, mereka cenderung menjadi lebih muda, dan memiliki kondisi fisik yang lebih baik, didikan yanbg lebih baik, dan bekerja dalam jabatan white-collar. Penundaan atau gagal kembali bekerja sering dihubungkan dengan kesulitan emosional jangka panjang.

Hubungan keluarga dan penderita penyakit jantung saling bersangkut paut: dimana pasien penderita penyakit jantung dengan dukungan sosial yang kuat dapat sembuh lebih cepat dan umur yang lebih panjang daripada yang tidak mendapatkan dukungan sosial (Berkman, 1995; Will & Fegan, 2001). Banyak pasien penderita penyakit jantung, mengalami kesulitan dalam keluarga-seperti perselisihan akibat keuangan atau masalah seksual-yang mana kesulitan tersebut seringnya menjadi lebih buruk (Croog & Fitzgerald, 1978; Swan, Carmelli & Rosenman, 1986). Penyakit mungkin membuat keadaan tersebut lebih buruk. Serta siklus “rasa bersalah dan saling menyalahkan” mungkin berkembang (Croog, 1983). Contohnya, seorang suami yang menderita myocardial infarction mungkin menyalahkan istri dan anak-anaknya mengenai kondisinya dan mungkin mereka setuju dan merasa bersalah. Tetapi ketika hubungan harmonis muncul sebelum serangan penyakit, maka penyakit akan menambah stress pada semua anggota keluarga. Satu kesulitan dalam pernikahan mungkin timbul setelah penyakit jantung mempengaruhi aktivitas seksual, yang mana seringnya tidak pernah dapat kembali ke tingkat sebelum attack (Krantz & Deckel, 1983; Michela, 1987). Baik salah satu atau kedua pasangan mungkin takut melakukan seks dapat menimbulkan attack lain, meskipun sebenarnya resiko tersebut sangat rendah, khususnya jika pasien menggerakkan badan secara teratur (Muller et al., 1996). Kepuasan pernikahan pada kedua partner umumnya pada awalnya memiliki seks yang sedikit atau tidak sama sekali dan kemudian secara berangsur-angsur meningkat, melalui saran dokter si pasien (Michela, 1987).

Keluarga memiliki dampak yang sangat besar pada proses rehalibitasi penderita jantung: mengurus pasien agar merasa lebih baik, mengikuti cara hidup mereka, kesembuhan pasien dapat lebih cepat jika mereka berusaha memberikan dorongan semangat (Kaplan & Toshima, 1990; Krantz & Deckel, 1983). Tetapi timbul bahaya jika keluarga akan menaikkan cardiac vandalism, dimana penderita penyakit jantung menjadi terus bergantung dan putus asa. Kenyakinan suami/istri mengenai kemampuan fisikal pasien dapat membantu atau justru memperlambat rehabilitasi. Dua temuan penelitian mengenai pentingnya kenyakinan, yaitu pertama, anggota keluarga meningkatkan estimasi mereka pada kemampuan fisikal pasien penderita penyakit jantung setelah melihat dan mengalami secara pribadi kekuatan fisik pasien dapat benar-benar melakukannya, seperti olahraga treadmill (Taylor et al., cited Bandura, 1986). Anggota keluarga ini mungkin memberikan dorongan pada penderita penyakit jantung untuk lebih aktif. Anggota keluarga yang anggota keluarga yang tidak memiliki pengalaman ini terus memiliki perkiraan rendah kemampuan pasien, bahkan setelah menerima konseling medis yang berlawanan. Kedua, kebanyakan kenyakinan positif pasien dan pasangannya mirip mengenai penyakit jantung, seperti timeline dan konsekuensinya, fungsi fisik dan psikososial pasien menjadi lebih baik beberapa bulankemudian (Figueiras & Weinman, 2003).

Apakah konsekuensi emosional jangka panjang pada penderita penyakit jantung? Selama minggu atau bulan pertama memiliki penyakit jantung, kebanyakan pasien memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dari normalnya, tetapi distress mereka cenderung menolak selama satu atau dua tahun kemudian (Carney et al., 1995; Doehrman, 1977). Sebagian besar dapat menyesuaikan diri dengan cepat, khususnya jika mereka memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi (Holahan et al., 1997). Tetapi jika level kecemasan dan depresi sangat tinggi yang melewati beberapa bulan, emosi tersebut dapat menjadi bagian adaptasi yang buruk dan cenderung dihubungkan dengan penurunan pemenuhan cara hidup penderita penyakit jantung dan kemunduran kondisi fisiknya. Pasien dengan depresi dan kecemasan yang berat dalam minggu setelah serangan jantung banyak lebih mungkin menderita masalah jantung setelah itu, seperti arrhythmias atau meninggal pada tahun berikutnya daripada penderita yang distress lebih sedikit (Carney et al., 1988; Frasure-Smith et al., 1999; Moser & Dracup, 1996). Dengan cara yang sama, pasien yang, setelah menjalani angioplasty yang berhasil, perasaan optimis mengenai masa depan dan memiliki sebuah kesadaran kontrol pribadi dan self-esteem kemungkinan besar kurang dari orang lain yang menderita serangan jantung atau pembedahan atau angioplasty lain dalam beberapa bulan selanjutnya (Helgeson & Fritz, 1999).

Referensi:

Sarafino, Edward P. 2006. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions, 5th Edition. New Jersey: Jhon Wiley & Sons, Inc.

Posted in: Konseling