Kebebasan Individual ditinjau dari Etika

Posted on October 3, 2011

1


Dalam etika umum hal yang dianggap lebih penting adalah kebebasan individual. Berikut analisis arti kebebasan individual.

1) Kesewenang-wenangan
Terkadang kebebasan dimengerti sebagai kesewenang-wenangan (arbitrariness) yaitu orang dapat berbuat atau tidak berbuat sesuka hatinya. Dalam hal ini “bebas” dimengerti sebagai terlepas dari segala kewajiban dan keterikatan, izin atau kesempatan untuk berbuat semau gue. Contohnya, dengan demikian seorang pelajar adalah bebas, kalau tidak pernah masuk sekolah, karena hari itu kebetulan libur atau karena ia mengambil keputusan untuk bolos. Jadi ia bebas dalam arti, lepas dari kewajiban belajar dan dapat mengisi waktu sekehendak hatinya.
Banyak orang menerima pengertian kebebasan ini, yang mana secara spontan mereka akan menjawab, “ Saya bebas, jika saya melakukan apa saja yang saya mau”. Hal initerjadi karena mereka mencampuradukkan kebebasan dengan merasa bebas. Contohnya, ketika sekolah libur maka pelajar akan merasa sungguh-sungguh bebas karena ia tidak terikat kewajiban apa pun dan ia bisa melakukan banyak hal yang menjadi pantangan ketika berada di sekolah. Makna kebebasan lebih dalam dari hal tersebut karena kebebasan tidak bisa disamakan dengan merasa bebas atau dilepaskan dari segala macam ikatan sosial dan moral. Contohnya, pelajar yang masuk ke sekolah setiap pagi dan belajar dengan rajin serta tekun, tentu harus disebut bebas. Pada akhir tahun ajaran, ia mendapat rapor yang bagus dan dipuji oleh orangtuanya. Keberhasilannya didasarkan pada prestasi dan usahanya sendiri. Hal itu mungkinkarena kebebasannya sendiri dalam usaha mendapatkan prestasinya.
Jadi, kebebasan dalam arti kesewenang-wenangan sebenarnya tidak pantas disebut “kebebasan”. Sebab “bebas” sesungguhnya tidak berarti “lepas dari segala keterikatan”. Maka sekarang dapat kita simpulkan bahwa kebebasan tidak bertentangan dengan keterikatan. Sebaliknya kebebasan yang sejati mengandaikan keterikatan oleh norma-norma. Contohnya, kaidah-kaidah yang ada dalam tata bahasa tidak bermaksud menghambat, melainkan justru memungkinkan kita berkomunikasi melalui bahasa. Karen akita semua harus mentaati aturan-aturan tata bahasa, bila kita ingin mengerti satu sama lain. Dimana komunikasi dalam bahasa akan macet sama sekali bila kita menyingkirkan kaidah-kaidah yang berlaku untuk suatu bahasa tertentu. Demikian juga dalam tingkah laku kita sehari-hari, kebebasan tidak bertentangan dengan adanya norma-norma, melainkan justru dimungkinkan karena norma-norma itu.

2) Kebebasan Fisik
Dalam arti ini, orang menganggap dirinya bebas jika ia bis abergerak kemana saja ia mau tanpa hambatan apa pun. Contohnya, orang yang di borgol tentu tidak bebas. Selama meringkuk di penjara, seorang narapidana tidak bebas, tetapi begitu masa tahanannya lewat ia kembali menghirup udara kebebasan. Kebebasan dalam arti ini masih terlalu dangkal karena bisa saja seseorang yang tidak menikmati kebebasan fisik, namun sungguh-sungguh bebas. Contohnya, banyak pahlawan yang ditangkap tetapi mereka tetap bebas sepenuh-penuhnya. Jadi, orang yang dapat bergrak dengan cara bebas, hal itu belum menjamin bahwa ia bebas sungguh-sungguh.
Biarpun dengan kebebasan fisik belum terwujud kebebasan yang sebenarnya, namun kebebasan ini patut dinilai positif. Jika kebebasan dalam arti kesewenang-wenangan harus ditolak sebagai penyalagunaan kata “kebebasan”, maka kebebasan fisik bisa kita hargai tanpa ragu-ragu. Kebebasan ini sangat bermanfaat dan sangat dibutuhkan untu menjadi orang yang bebas dalam arti yang sebenarnya.

3) Kebebasan Yuridis
Kebebasan yuridis berkaitan dengan hukum dan harus dijamin oleh hukum. Kebebasan yuridis ini merupakan sebuah aspek dari hak-hak manusia karena dalam Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia (1984) dan dokumen-dokumen lainnya tentang hak-hak manusia membicarakan tentang “hak-hak dan kebebasan-kebebasan”. Jadi yang dimaksud dengan kebebasan dalam arti ini adalah syarat-syarat fisis dan sosial yang perlu dipenuhi agar dapat menjalankan kebebasan kita secara konkret.
Kebebasan-kebebasan yuridis ini menandai situasi kita sebagai manusia. Kebebasan kita bersifat berhingga dan karena itu membutuhkan ruang gerak dimana ia bisa dijalankan. Kebebasan-kebebasan yuridis ini dimaksudkan untuk menjalankan kebebasan manusia secara konkret dan mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang terpendam dalam setiap manusia guna memenuhi semua syarat hidup di bidang ekonomis, sosial dan politik. Peranan negara dalam pelaksanaan kebebasan yuridis ini sangat penting dimana negara mengupayakan kesejahteraan umum, harus menjamin dan memajukan kebebasan-kebebasan ini. Hal tersebut dilakukan dengan dengan membuat undang-undang yang cocok bagi keadaan konkret. Perundangan-perundangan ini mungkin akan mengganggu dan membatasi kebebasan beberapa orang. Namun hal tersebut tidak bisa dieelakkan. Yang terpenting ialah bahwa pembatasan ini hanya terjadi demi kebebasan sebesar mungkin bagi semua orang.
Tapi peranan negara tidak sama terhadap semua kebebasan yuridis. Kebebasan yuridis dibedakan menjadi dua macam yang bergantung pada dasarnya. Dasarnya bisa hukum kodrat atau hukum positif. Karena itu kita membedakan kebebasan yuridis berdasarkan hukum kodrat dan hukum positif.

Referensi:
Bertens, K. 2004. Etika. Jakarta: Gramedia.

Posted in: Konseling