Stroke ditinjau dari Psikologi Kesehatan

Posted on October 3, 2011

1


Stroke merupakan sebuah kondisi dimana timbul kerusakan pada beberapa area otak ketika suplai darah pada area itu terganggu karena hilangnya oksigen. Stroke merupakan penyebab kematian terbesar di dunia (WHO, 1999). Di United States, setiap tahun 700.000 orang terkena stroke baik baru maupun berulang, dan diklaim hanya 160.000 yang hidup (AHA, 2004; USBC, 2003).

Berikut simptom-simptom stroke:

  • Wajah, bahu atau lengan khususnya bagian satu sisi tubuh mengalami mati rasa dan kelemahan secara tiba-tiba
  • Tiba-tiba merasa kacau, susah berbicara dan sulit dipahami
  • Tiba-tiba sulit melihat baik pada salah satu mata atau kedua mata
  • Tiba-tiba sulit untuk berjalan, pusing, kehilangan keseimbangan atau koordinasi tubuh
  • Tiba-tiba merasa sakit kepala yang berat tanpa diketahui penyebabnya

Penyebab, Efek dan Rehabilitasi Stroke

1.Faktor-faktor resiko usia, gender dan sosiokultural pada stroke

Timbulnya stroke sangat rendah terjadi sebelum usia setengah baya. Pria lebih berkemungkinan mengembangkan stroke dan meninggal karenanya dibanding wanita. Sedangkan faktor peran dari sosiokultural pada stroke dapat kita lihat pada kelompok etnik di United States, dimana orang kulit hitam memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dikarenakan stroke dibandingkan orang kulit putih, Asia, Hispanic, dan orang Amerika asli (NCHS, 2003).

2. Faktor-faktor resiko gaya hidup dan biologis pada stroke

Beberapa faktor gaya hidup dan biologis dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami stroke, yaitu:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kebiasaan merokok
  • Penyakit jantung, diabetes dan faktor-faktor resiko seperti kolesterol tinggi, obesitas, dan tidak adanya kegiatan fisik
  • Jumlah sel darah merah yang tinggi, yang mana membuat darah menjadi lebih tebal dan lebih berkemungkinan membentuk gumpalan
  • Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan
  • “Mini-strokes” atau disebut juga transient ischemic attacks yang muncul satu atau beberapa kali sebelum stroke total

3. Efek-efek Stroke dan Rehabilitasi

Lokasi spesifik dari kerusakan dalam otak juga dapat menentukan gangguan emosional yang pasien stroke tunjukkan. Beberapa penelitian telah menemukan hubungan dinatara (1) kerusakan spesifik hemisphere kiri dan tingkat depresi pasien dan (2) kerusakan spesifik hemisphere kanan dan kemampuan pasien menginterpretasi dan berekspresi (Bleiberg, 1986; Newman, 1984b). Contohnya, gangguan emosional pada beberapa pasien stroke telah disebut emotional lability, yang mana dapat timbul dalam tingkat yang bervariasi (AHA, 2004; Bleiberg, 1986). Beberapa orang dengan gangguan ini mungkin tertawa atau menangis dengan sedikit atau tanpa provokasi, menyadari dan dikejutkan oleh ketidaksesuaian; orang lain dengan gangguan milder mungkin menampilkan emosi yang tepat, tetapi tingkat yang berkelebihan, seperti menangis ketika memikirkan sedikit pikiran sedih. Dengan kata lain, gangguan emosional, pasien stroke mungkin menjadi tidak mampu untuk menginterpretasikan emosi orang lain secara benar dan mungkin bereaksi aneh pada mereka.

Aspek-aspek Psikososial pada Stroke

Penyembuhan stroke yang berat merupakan proses yang panjang dan sulit. Ketika stroke menimbulkan defisit fisik dan kognitif, penyesuaian emosional dapat menjadi sulit. Pasien stroke sangat mudah mengalami depresi (Bleiberg, 1986; Krantz & Deckel, 1983; Newman, 1984b). Depresi terjadi pada minggu pertama di rumah sakit dan kurang menunjukkan perkembangan dari program rehabilitasi sebelum mereka tinggal (Tennen, Eberhardt & Affleck, 1999). Pasien melihat pencapaian kesembuhannya berjalan lambat dan mulai menyadari luas kerusakan, mereka mungkin menjadi putus asa dan merasa tidak ada harapan. Dalam posisi ini, sebagian besar mereka yang kondisinya parah, lebih kuat mengembangkan depresi (Diller, 1999). Intervensi dengan cognitive-behavioral therapy efektif dalam mengatasi ancaman depresi ini (Sarafino, 2001).

Stroke adalah penyakit yang kemungkinan besar meninggalnya tinggi yang mencakup kerusakan otak karena akibat tidak adanya darah yang mengalir ke otak. Orang yang selamat dari stroke sering menderita kerusakan fisik dan kognitif, tetapi treatment medis dan fisik, pekerjaan dan terapi bicara dapat menolong orang memperoleh kembali kemampuan mereka yang banyak hilang. Sebagian besar, defisit yang berat setelah rehabilitasi, pasien berkemungkinan mengalami masalah psikososial.

Referensi:

Sarafino, Edward P. 2006. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions, 5th Edition. New Jersey: Jhon Wiley & Sons, Inc

Posted in: Konseling