Intergroup Threat Theory

Posted on October 8, 2011

0


Kita hidup dalam sebuah dunia yang berisi banyak ras, etnis, kebangsaan, ideologi politik, kelas sosial, seks dan hal-hal lainnya yang terlalu banyak bila disebutkan. Kelompok-kelompok sosial inilah yang akan membentuk identitas dan kehidupan kita. Semua dari kelompok sosial ini memiliki karakter kriteria dan batas-batas dalam keanggotaanya, yang memasukkan orang dengan kriteria tertentu dan mengabaikan yang lain. Batasan yang tidak logis inilah yang menyatakan secara tidak langsung tension diantara kelompok-kelompok, dalam kenyataannya hubungan diantara kelompok justru jauh lebih mungkin saling bersikap antagonis dari pada saling melengkapi. Social Identity Theory menganggap bahwa alasan intergroup bersikap antagonis adalah karena adanya kepentingan psikologis pada keanggotaanya dalam kelompok, khususnya jka dihubungkan dengan identifikasi individu tersebut pada ingroup (Tajfel & Turner, 1986). Hal tersebut mencakup acceptance, belonging, dan social support, maupun sistem dari peran-peran, aturan-aturan, norma, nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan yang mengarahkan perilaku. Kelompok juga memberikan hidup kita berarti yaitu meningkatkan self-esteem kita (Crocker & Luhtanen, 1990), meningkatkan kesadaran kekhususan kita dari orang lainnya (Turner, 1987), dan membuat kita lebih pasti pada dunia sosial dan tempat kita berada (Abrams & Hogg, 1988). Karena pemenuhan kebutuhan inilah, kelompok merupakan hal yang dihormati, dan kita takut merusaknya hampir seperti kita takut merusak diri kita sendiri. Hal ini mengakibatkan kita cenderung untuk lebih mendukung kelompok kita sendiri dan bersikap bermusuhan pada kelompok lain, khususnya selama masa-masa perselisihan atau berbahaya (Branscombe, Ellemers, Spears, & Doosje, 1999; Tajfel & Turner, 1986).
Dalam konteks Intergroup Threat Theory, sebuah ancaman pada intergroup dialami ketika anggota dari salah satu kelompok merasa bahwa kelompok lain berada dalam posisi yang dapat menyebabkan mereka rugi. Kita menganggap bahawa fisik atau kehilangan sumber daya sebagai realistic threat dan integritas atau validitas dari sistem ingroup sebagai symbolic threat. Alasan utama bahwa ancaman pada intergroup penting karena hal tersebut dapat berakibat merusak hubungan intergroup secara luas. Ketika ancaman dari outgroup mengarah pada respon perilaku non-hostile (seperti negosiasi, kompromi, pencegahan), respon kognitif dan afektif maka ancaman kemungkinan besar negatif.

Stephan, Ybraa & Morrison (2008) membagi intergroup threat theory menjadi 2, yaitu:
a. Realistic group threats, ancaman pada kelompok yang berupa power, resources dan kesejahteraan umum.
b. Symbolic group threats, ancaman pada kelompok yang berupa agama, nilai-nilai, sistem kepercayaan, ideologi, filosofi, moral atau pandangan dunia.

Posted in: Konseling