InSos: ‘Berpikir Ilmiah’

Posted on October 15, 2011

0


Telah habis waktuku 6 minggu memikirkan ‘Apa itu berpikir ilmiah?’ Aku merasa 6 minggu terlalu panjang untuk mendapatkan jawaban itu, tetapi meski 6 minggu telah berlalu, hal tersebut belum mampu ku simpulkan.. apa yang salah dalam pikiranku? Banyak hal yang belum ku mengerti dan kupahami mengenai ‘Apa itu berpikir ilmiah?’ Saat aku mulai merasa mendapatkan pencerahan mengenai ‘Apa itu berpikir ilmiah?’ Semakin aku merasa aku begitu tidak tahu, semakin aku mendapatkan banyak kesalahanku..Begitu dalamkah ‘Apa itu berpikir ilmiah?’
Mengetahui ‘Apa itu berpikir ilmiah?’ Terus terang itu sangat sulit..dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya begitu berat..begitu menantang..begitu menuntut…begitu melelahkan dan bisa membuat atau justru mengarahkan diri ke rasa putus asa. Putus asa karena rasa ketidaktahuan. Ketidaktahuan yang bisa menghancurkan.
Namun di lain sisi, ‘Apa itu berpikir ilmiah?’ sangat menarik, sangat menantang, sangat mendewasakan dan sangat memaksa untuk dipahami. Ku cari..ku jalani..ku lewati, dia mendewasakan. Dia memaksa untuk dipahami. Dia memaksa untuk digali. Dia memaksa untuk dibongkar. Dia memaksa untuk di jalani. Dia memaksa untuk di dekap. Tetapi di satu sisi, di akhir waktu, dia memaksa untuk di lepaskan. Dia ingin mandiri. Dia ingin bebas. Dia ingin mendapatkan jati diri. Dia ingin menjadi dirinya. Tetapi lagi, dilain pihak, dia masih butuh perhatian. Dia masih butuh pengawasan. Dia tetap tidak bisa dilepas begitu saja. Dia butuh mata yang jauh dan tangan yang selalu ada buatnya.
Penelitian..itu lah dia bagiku. Dia adalah sebuah masalah. Dia bagaikan anak kecil, pada mulanya. Dia bagaikan remaja, ketika proses berlangsung. Dan dia bagaikan sosok dewasa saat tiba di penghujung penyelesaian. Sosok dewasa yang telah bisa menjaga diri, tetapi di lain sisi masih dapat dipengaruhi lingkungan. Ia tetap masih butuh orangtua, seseorang yang dihormati, dimodelling, dipercaya dan salalu menjaga. Orangtua, dia peneliti. Peneliti adalah manusia. Pada akhirnya, hakikatnya peneliti akan meneliti. Meneliti dengan berpikir ‘Apa itu berpikir alamiah?’

Posted in: Ceritaku