Cinta antara Orangtua & Anak

Posted on December 5, 2011

0


Bayi ketika lahir hanya merasakan rangsangan positif dari kehangatan dan makanan dengan sumbernya: sang ibu. Ketika anak tumbuh dan berkembang , ia kemudian mampu merasakan segala sesuatu sebagaimana adanya; kepuasan ketika diberi makan dibedakan dengan puting susu, payudara dengan ibunya. Pada saat yang bersamaan, ia belajar menghadapinya; belajar bahwa api itu panas dan menyakitkan, bahwa tubuh ibu hangat dan nyaman, bahwa kayu itu keras dan berat, bahwa kertas ringan dan dapat disobek. Ia belajar bagaimana menghadapi orang dan semua pengalaman ini semakin mengkristal dan menyatu dalam pengalaman : saya dicintai.

Bagi kebanyakan anak sebelum usia antara delapan setengah hingga sepuluh tahun, masalah terutama adalah persoalan dicintai – karena siapa dirinya. Untuk pertama kalinya dalam kehidupan anak, gagasan tentang cinta diubah dari dicintai menjadi mencintai; menjadi menghasilkan cinta. Kebutuhan orang lain sama pentingnya dengan kebutuhan dirinya – bahkan lebih penting. Memberi menjadi lebih memberi kepuasan, lebih membahagiakan, daripada menerima; mencintai bahkan lebih penting daripada dicintai sehingga ia merasakan semacam penyatuan baru, hubungan berbagi, dan kesatuan.

Anak meskipun telah hidup diluar kandungan, sepenuhnya masih tergantung pada ibunya. Namun, dari hari ke hari ia semakin mandiri: ia belajar berbicara, berjalan, dan menggali dunianya sendiri; hubungan dengan ibu berkurang beberapa makna pentingnya, dan sebaliknya hubungan dengan ayah justru lebih penting.

Hubungan dengan ayah cukup berbeda karena ayah adalah seseorang yang mengajar anak, yang menunjukkan padanya jalan ke dunia. Cinta bapak adalah cinta bersyarat. Prinsipnya adlah “Aku mencintai kamu karena kamu memenuhi harapanku, karena kamu melakukan tugasmu, karena kamu menyukai aku.” Cinta bapak seharusnya dituntun oleh prinsip dan pengharapan; perlu sabar dan tenggang rasa, bukan mengancam dan otoriter, meningkatkan perasaan mampu pada anak yang bertumbuh dan akhirnya memungkinkan anak mempunyai otoritasnya sendiri dan melepaskan diri dari ayahnya.

Lebih dari itu, pribadi yang telah dewasa mencintai dengan nurani ibu dan ayah, meskipun dalam kenyataannya keduanya tampak bertolak belakang satu sama lain. Jika hanya menggunakan nurani ayah, ia akan menjadi kejam dan tidak manusiawi. Jika hanya menggunakan nurani ibu, ia akan cenderung kehilangan pertimbangan, serta menghalangi perkembangan dirinya dan orang lain. kegagalan dalam perkembangan ini merupakan penyebab bagi neurosis.

Salah satu penyebab perkembangan neurosis dapat dilihat dalam kenyataan dimana seorang anak laki-laki mempunyai ibu yang mencintainya, namun terlalu sabar atau terlalu menguasai, serta ayah yang lemah dan tidak peduli. Ia akan berkembang menjadi pribadi yang tergantung pada ibu, merasa tidak berdaya, perlu dilindungi, perlu diperhatikan, serta kurang mempunyai sifat ayah – disiplin, mandiri, dan kemampuan untuk menjadi tuan atas hidupnya sendiri. Disisi lain, jika ibunya dingin, tidak tanggap atau terlalu menguasai ia akan menjadi pribadi yang berorientasi pada ayah secara berat sebelah, sepenuhnya tunduk pada prinsip hukum, ketertiban dan otoritas, serta kurang memiliki kemampuan untuk mengharapkan atau menerima cinta yang tidak bersyarat. Penjelasan lebih jauh mungkin menunjukkan bahwa tipe-tipe neurosis tertentu, seperti neurosis obsesional, berkembang lebih berdasarkan kelekatan pada ayah yang berat sebelah, sementara yang lain, seperti histeria, alkoholisme, serta ketidakmampuan untuk menegaskan diri sendiri dan mengatasi hidup secara realistis, merupakan akibat dari kelekatan yang berpusat pada ibu.

Referensi: Erich Fromm dari buku yang berjudul The Art of Loving

Posted in: Konseling