Katakan itu C.I.N.T.A?

Posted on December 5, 2011

0


Hubungan antara pria dan wanita, dari masa ke masa, merupakan hubungan yang rumit. Terutama bila berkaitan dengan perasaan antara pria dan wanita yaitu cinta. Banyak lagu-lagu bertema cinta, booming dan slalu disukai oleh semua orang, dari musik kebarat-baratan atau ketimur-timuran. Tetapi di balik itu semua, terdapat unsur yang kompleks dari hubungan tersebut. Dan agar hubungan tersebut menjadi hubungan yang baik dan mendukung manusia itu sendiri yaitu antara pria dan wanita, maka haruslah pria dan wanita tersebut bijak dalam menyingkapi hubungan mereka sebelum mereka memilih mengatakan bahwa hubungan mereka adalah CINTA.

CINTA menurut saya, adalah suatu perasaan yang timbul dari dalam hati manusia dimana perasaan tersebut merupakan perasaan memberi yang tulus tanpa mengharapkan balasan, meskipun sebenarnya defenisi cinta tidak dapat di batasi hanya dengan defenisi ini karena mungkin masih banyak kata lain lagi yang lebih tepat mengartikannya. Tetapi saat ini, defenisi saya yang akan kita pakai. Semua orang mengharapkan mendapatkan cinta dan juga menginginkan memiliki objek cinta. Tetapi seringnya banyak orang terjebak dengan persepsi cinta yang salah karena mereka menganggap mereka telah menemukan objek cinta mereka yang ternyata pada kenyataannya objek cinta mereka adalah semu.

Mungkin saya bisa mencontohkannya dalam situasi ini:
X adalah seorang wanita dan Y adalah seorang pria. X tipe yang tidak terlalu perduli mengenai hubungan romantis, tetapi meskipun begitu dia tetap berharap dapat menemukan seseorang yang menjadi teman hidupnya. Suatu ketika X dan Y saling berinteraksi dan akhirnya tertanam rasa ketertarikan. X merasa tertarik pada Y karena Y ‘SANGAT BAIK’ (hati-hati dengan kata ini).
X berperilaku A (sifat negatif) = Y mengatakan ‘tidak apa-apa’
X berperilaku B (tidak sengaja berbuat salah) = Y mengatakan ‘maafkan aku’
X berperilaku C (sengaja berbuat salah) = Y mengatakan ‘ini salahku’
X kemudian merasa Y sangat ‘Baik’, slalu mencoba mengerti, tidak pernah menyalahkan atau menghakimi X atas perilakunya meskipun X salah. Y telah menanamkan kepercayaan pada X bahwa hanya dialah yang bisa mengerti X. X mulai menyukai Y dan X mulai merespon Y dengan menanam rasa sayang, peduli dan tertarik pada Y disertai harapan Y akan selalu begitu pada X.

Tetapi pada kenyataannya, ketika Y melihat X mulai merespon ternyata Y mulai bersikap berbeda. Y mulai menuntut pada X. Keadaan menjadi terbalik:
X berperilaku A (sifat negatif) = Y mengatakan ‘sifatmu tidak bagus, aku tidak menyukainya. Rubah itu’
X berperilaku B (tidak sengaja berbuat salah) = Y mengatakan ‘kamu sangat ceroboh, aku kesal padamu’
X berperilaku C (sengaja berbuat salah) = Y mengatakan ‘kamu sangat tidak dewasa, aku kecewa padamu’
Perilaku yang berlawanan ini, dapat menyebabkan X menjadi bingung, ia mulai meragukan dirinya. Apa yang sedang terjadi? Apa salah dirinya hingga Y berubah? Jika X terus mengalami hal ini, maka dapat dipastikan X dapat mengalami stress karena timbulnya rasa cemas, ketidakpastian, ketidakkonsistenan dari hubungannya dengan Y. Masalah psikologis tersebut bila X tidak secepatnya menanganinya maka hal tersebut dapat menjadi gejala psikologis yang bisa berujung pada masalah fisik, seperti X merasa sakit kepala tanpa sebab, pusing, susah tidur, nafsu makan berlebihan/berkurang drastis, tidak bersemangat, dan sebagainya.

Jadi, bila bertemu dengan keadaan seperti ini, maka selesaikan secepatnya dan tangani secara baik dengan bantuan profesional atau dengan bantuan dukungan keluarga/sahabat/teman sebelum berujung pada masalah yang lebih serius dan juga berusahalah mencari penyelesaian dengan bantuan lain yaitu dengan membaca artikel atau kasus yang berhubungan dengan masalah tersebut dan ambil solusi yang dianggap baik untuk. Selamat mencoba untuk kamu-kamu yang galau karena ‘sesuatu’ yang kamu sebut itu C.I.N.T.A.

Posted in: Konseling