CuLture ShoCk

Posted on February 3, 2012

0


Oberg menemukan bahwa kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial seperti ekspresi wajah, isyarat, kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang dimiliki individu tersebut di lingkungan asalnya disebut sebagai culture shock (dalam Mulyana, 2005). Samovar (2010) mengatakan bahwa reaksi culture shock bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda pula. Reaksi-reaksi yang terjadi yaitu:
1. benci terhadap lingkungan baru
2. mengalami disorientasi diri
3. rasa penolakan
4. gangguan lambung dan sakit kepala
5. homesick/rindu pada rumah/ lingkungan lama
6. rindu pada teman dan keluarga
7. merasa kehilangan status dan pengaruh
8. menarik diri
9. menganggap orang-orang dalam budaya baru tidak peka

Reaksi terhadap culture shock dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri bervariasi pada tiap individu. Oberg (1960) dalam Ward (2001) menjelaskan bahwa reaksi culture shock terdiri dari empat fase yaitu the honeymoon, yang menekankan pada reaksi awal individu yaitu perasaan senang, kecewa, terpesona dan antusias. Kedua, the crisis, dikarakteristikan dengan individu merasa tidak berdaya, frustasi, cemas dan marah. Ketiga, the recovery, merupakan puncak dari pemecahan masalah di fase kedua dan akhirnya individu mengalami proses pembelajaran budaya. Keempat yaitu adjustment, individu telah merasa terbiasa dan mampu berfungsi secara kompeten di lingkungan baru.

Samovar (2010) kemudian menambahkan karakteristik tambahan dalam beberapa fase yaitu dalam fase the crisis yang mana masalah yang berkembang dilingkungan baru yaitu kesulitan bahasa, makanan, sistem lalu lintas baru, sekolah baru dan lain-lain. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Individu menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap bermusuhan, mudah marah, tidak sabar dan bahkan menjadi tidak kompeten. Ketiga yaitu the recovery, fase ketiga dimana individu mulai mempelajari dan mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, individu secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan untuk beradaptasi dalam budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan. Keempat yaitu adjustment, fase terakhir, dalam hal ini individu telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, pola komunikasi, keyakinan dan lain-lain). Individu telah terbiasa dengan lingkungan barunya dan mampu berfungsi secara kompeten. Bila individu pulang sementara ke lingkungan asalnya maka ia mungkin membawa hal-hal tertentu dari lingkungan barunya dan bila individu pulang untuk selamanya, ia akan merasa kehilangan lingkungan barunya dan penduduk pribuminya yang ia kenal.

Menurut Oberg (dalam Mulyana, 2005), dalam proses penyesuaian individu terhadap lingkungan baru, pada fase pertama berlangsung di minggu pertama dimana individu merasa senang melihat hal-hal yang baru. Fase kedua mungkin berlangsung dari beberapa hari atau beberapa minggu hingga enam bulan. Sedangkan fase ketiga dan keempat kemungkinan dialami individu adalah bergantung keadaan. Bila individu menetap di lingkungan baru untuk waktu yang lama maka individu akan mengalami tahap yang ketiga yaitu fase recovery, dalam hal ini individu tersebut berhasil memperoleh pengetahuan bahasa dan mulai mengurus dirinya sendiri. Sedangkan tahap adjustment, individu tidak hanya akan menerima makanan, minuman, kebiasaan-kebiasaan, dan tradisi-tradisi pribumi tetapi juga individu mulai menikmati hal-hal tersebut.

Posted in: Konseling